Entahlah

Senin, 15 April 2013

Malam ini aku tidak bisa tidur. Dari jam lima sore aku memerhatikan layar laptop, meneruskan novel. Membuat novel adalah pekerjaan yang kusukai. Tapi sebenarnya dari dulu aku menulis novel sebagai pelampiasan hati. Melampiaskan emosi yang tidak bisa kukeluarkan. Contohnya saat ujian nasional aku tidak lulus. Aku menuliskan kemarahan dan kesedihanku. Namun emosiku itu kubentuk dalam sebuah novel. Itulah yang kulakukan. Menulis untuk menerapi jiwaku yang terbungkus oleh emosi terpendam. Namun novel kali ini bukan pelampiasan emosiku, melainkan rancanganku dan temanku untuk sebuah novel yang akan kami ikutkan dalam sebuah lomba.
Malam ini kepalaku sakit, karena aku menahan sesak. Aku tak tahu kepada siapa aku harus bercerita. Tiap malam juga sudah kulakukan, menjerit menyebut nama Tuhan. Aku berkali-kali berdoa, berkali-kali beristighfar. Tapi rasanya kepalaku mau pecah. Terlalu banyak gejolak emosi dalam diriku.
Sudah dua minggu ini kakakku tidak menelponku. Aku tahu, beliau pasti sibuk dengan ponakan baruku. Waktu kakak melahirkan, aku coba telepon beliau namun kakak ipar yang angkat. Setelahnya kakak telpon balik, tapi tidak bisa berbicara banyak karena anaknya yang baru lahir tiba-tiba menangis. Jadilah pembicaraan kala itu terpotong. Kakak berjanji untuk menelponku, tapi beliau tidak menelpon juga. Ini membuatku sedih.
Aku tahu aku harus bahagia dengan kelahiran ponakan. Tapi sejujurnya lahirnya ponakan membuatku justru tambah merasa kesepian. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa perhatian kakakku yang pertama tak akan seperti dulu lagi. Itu sudah bisa kuprediksi. Tapi aku lebih tak mau jika ponakan tak ada. Itu akan membuat kakakku tidak bahagia. Kakak dan suaminya sudah menanti bayi itu lima tahun lamanya. Penantian yang lama dan panjang.
Aku tak bisa berdiri sendiri. Kadang aku bingung menentukan jalan untuk masa depanku. Apa rencanaku setelah lulus nanti. Berbagai rencana muncul dengan banyak opsi. Aku tak tahu dan semua itu masih tak pasti. Aku bingung, aku tak tahu arah dan aku tak tahu tempat bertanya. Aku tak mungkin mengeluhkan semua ini kepada kakakku. Itu tak mungkin. Mereka sudah cukup jengah dengan keluhanku. Mereka tak akan suka dengan keluhanku. Tapi disini aku sendiri, tak mengerti. Aku sungguh tak tahu jalan mana yang harus kutiti. Kakak tidak pernah mengarahkanku, tapi dia seringkali meragukan mimpiku. Namun saat aku bertanya sebaiknya bagaimana, tak pernah ada jawaban dari mereka. Itu membuatku tenggelam dalam keputus asaan. Aku berontak dengan tekadku, tapi sesungguhnya aku lemah. Sesungguhnya aku benar-benar lemah. Aku tak bisa berdiri sendiri. Itu sulit.

Rasanya aku berada dalam dua jalan yang benar-benar membuatku lelah. Jika aku mengikuti keinginan kakak yang tak jelas arahannya, aku akan lelah. Namun, jika aku bertahan dengan keputusanku, aku pun lelah. Aku lelah berdiri sendiri, tanpa ada orang yang peduli. Aku tak mengerti kepada siapa aku harus mengadu. Sesak dadaku malam ini. Rindu ayah ibu menyeruak hati. 

Rindu Itu,,,

Sabtu, 13 Oktober 2012


Aku tidak mengerti, mengapa seharian ini banyak perasaan berkecamuk dalam hati. Lama sudah blog ini tak pernah kusentuh. Sekedar menyematkan jemari, menuliskan segala isi hati.

Tuhan, bukan maksud hati menggugat takdir. Tapi rindu ini selalu menyeruak tanpa tepi. Tuhan, bukan maksud hati menggugat takdir. Tapi rasa ini begitu kuat merobek relung hati.

Kadangkala aku tak tahu apa yang bisa membuatku bahagia? Tawa itu menyemai, senyum itu lepas. Apakah itu bisa dikatakan bahagia? Akupun tak tahu karena di sisi lain, tiba-tiba ruang terasa begitu hampa dan keramaian terasa sepi.

Hari ini, kulihat banyak kabar dari para mahasiswa UIN. Mereka bergembira menyambut wisuda. Seluruh keluarganya pun berdatangan hingga tebersit dalam hati, “Saat aku wisuda, siapa yang akan menghadiri?” Ah, tapi kutepis perasaan bodoh itu. Sudah kutepis, tapi saat melihat teman sendiri begitu termotivasi setelah ditelpon ibu mereka, aku pun hanya bisa menggigit bibir. Rindu itu menyeruak. Ingin sekali kudapat motivasi itu. Tapi nyatanya hidupku masih terasa hampa. Apa sebab?

Kali ini aku sadar bahwa aku terlalu rindu dengan kata “Keluarga”.

Jika kemudian banyak orang berkata, “Kau masih punya kakak!”. Ya, aku masih punya kakak yang sudah memiliki keluarga kecilnya masing-masing. Kakak adalah kakak dan tak akan pernah bisa menjadi ibu bagi kita.

Maka, saat catatan ini kutulis. Kalian yang masih punya orang tua haruslah bersyukur. Mereka adalah harta kalian yang paling berharga. Bahkan amarahnya suatu saat akan menjadi hal yang paling dirindukan.

Ini fakta, saat ayah tiada, materilah yang terasa. Tapi, saat ibu tak ada, psikologismulah yang akan sedikit terguncang. Sebelum semua itu datang pada kalian, bahagiakan mereka agar tak ada penyesalan yang tersisa.

Kalian tahu, betapa aku rindu dengan perhatian kecil seorang ibu walau hanya dengan perkataan, “Bagaimana kuliahmu Nak? Makan apa? Belajar yang rajin!” dan aku pun merindukan ayah yang tanpa kata, tanpa suara mengirimkan banyak fasilitas  tak terduga. Dan saat kurasakan lagi, ternyata aku lebih rindu pada marah mereka kepadaku. Amarah yang muncul, saat anaknya sudah salah melangkah. Sekarang aku pun tak tahu, bagaimana langkahku. Saat sudah tak tahu kemana arah, aku tak dapat bertanya pada mereka kemanakah aku harus pergi. Saat aku tak tahu apa yang harus kulakukan, aku tak dapat bertanya pada mereka tentang nasihat yang harus kujalani.


~Rabbii… titip rindu untuk ibu dan ayah, dan hanya Engkaulah yang punya kuasa untuk selalu mengarahkaku pada jalan ridhoMu~

Presentasi #part II

Kamis, 06 Oktober 2011


Hari itu adalah hari yang paling kami nantikan. Pasalnya, hari itu adalah tiba waktunya bagi kami untuk mempresentasikan hasil makalah kami. Perjuangan panjang mengolahnya masih terngiang-ngiang di kepala, dari pusingnya cari data sampai permasalahan kami yang berusaha keras memahami bagaimana caranya menggunakan software genstat. Software ini adalah sangat baru bagi kami karena kami biasanya menggunakan software Minitab dalam praktikum. Bertanya pada kakak tingkat pun ternyata tak guna karena mereka  juga belum pernah menyentuh software tersebut. Alhasil, kami benar-benar belajar secara otodidak, mencari sendiri tutorialnya, mencobanya secara perlahan dan gagal berkali-kali. Beruntung saat itu ada teman kami yang bersedia membantu kami untuk belajar bersama mempelajari genstat. Rasanya jika outputnya berhasil muncul, decak senang sudah tak tertahankan.
Jika kembali mengenang detik-detik menuju presentasi, maka presentasi inilah yang memang paling berkesan. Pasalnya, anggota kelompok kami yang terdiri dari 4 anggota rata-rata satu kosan kecuali satu orang. Dan yang namanya kerja kelompok memang harus berkelompok, Maka kami tentu tak boleh melupakan teman kelompok kami satunya. Alhasil kami bertiga seringkali sibuk menghubungi teman kami yang satu tersebut. Dan sialnya, operator yang sedikit tak beres kdang-kadang membuat kami terlihat panik dalam menghubunginya.
Memiliki teman-teman kerja kelompok satu kosan, cukup menyenangkan memang tapi ternyata juga cukup merepotkan. Kemudahannya adalah kami yang gampang berkoordinasi karena sering bertemu. Namun, karena selalu bertemu itulah kadang membuat psikologi sedikit terganggu,  semua menjadikan  pembicaraan tak jauh-jauh dari pekerjaan kelompok yang belum selesai. Dari repotnya mencari data, sampai kembali melakukan undian untuk menentukan pembagian tugas materi. Dari ada yang bingung sampai bahagia karena berhasil memahami dengan baik. Dari leganya bagian tugas sudah selesai dan gelisahnya menunggu jawaban dari anggota kelompok kami yang kebetulan kosnya mencar tak satu kosan dengan kami.
H-1, adalah hari yang paling merepotkan, karena saat itu masih harus membereskan sisa-sisa tugas yang belum selesai. Dari pembuatan presentasi power point, pengeditan makalah dan penjilidan juga penggandaan. Padahal kami juga harus menjadikan semuanya dalam satu file softcopy  keping CD dan dikumpulkan jam 7 pagi. Entahlah dan kami juga tak tahu mengapa kami jadi terlihat begitu repot. Seringkali kami saling kunjung-mengunjungi kamar untuk membahas serpihan tugas yang belum selesai sampai bangun-bangunan pada malam hari kembali merapikan yang belum rapi. Semua itu sampai membuat seluruh teman-teman kosan geleng-geleng kepala sampai heran memangnya ada tugas apa hingga kami bisa serepot itu. Dan lucunya, kami pun juga turut bangun-bangunan dengan teman kelompok kami satunya yang kosannya masih jauh dipandang mata. Seperti hendak menghadapi sebuah tugas besar kami pun mengerjakan makalah dan presentasi dengan amat sungguh-sungguh.
Hari H tiba dan saatnya presentasi. Dengan modal pede aja lagi kami pun menyiapkan LCD dan perlengkapan lainnya, juga membagikan photocopy makalah kepada teman-teman. Kenapa kemudian kusebutkan modal itu adalah modal pede aja lagi, karena memang itulah salah satu modal penting. Tapi modal ini hanya digunakan untuk mempertahankan nilai dan bukan untuk memahamkan mahasiswa. Jika kalian kemudian tak tahu jawaban akan pertanyaan temanmu di dalam kelas, padahal saat itu dosen akan mengurangi nilaimu jika tak dapat menjawabnya, maka keluarkanlah modal satu ini. jawablah pertanyaan temanmu tersebut dengan sangat meyakinkan. Yakinlah jika kemudian dia masih tak paham, dia pasti akan memilih mengangguk setuju karena melihat wajah dan jawabanmu seakan-akan kamu sudah sangat memahami materi dengan sangat baik. Yah seperti itulah yang kemudian kelompok kami alami.
Waktu itu kami sudah selesai memaparkan materi dengan baik, mempresentasikan dengan semestinya. Ketika kalian mempresentasikan sesuatu, saat itulah kemudian kalian menjelaskan materi dengan tujuan agar teman-temanmu dapat memahaminya dengan baik. Paparkanlah materi dengan niat tulus ikhlas agar temanmu dapat mencerna materinya. Namun jangan lupa juga untuk mengeluarkan performa terbaikmu dan berlagaklah seperti orang yang paling tahu dalam hal itu  untuk meyakinkan dosen, agar beliau menganggap kalian sudah sangat memahami materinya dengan sangat amat baik sehingga nilai sempurna pun mudah dikantongi =p.
Saat itu, memang hal itulah yang kami lakukan. Presentasi dengan membawa rasa percaya diri yang sangat tinggi. Ketika ada pertanyaan yang kemudian kami tak tahu jawabannya dengaan pasti, kami tetap menjawab apa adanya sambil tak lupa  menyatakannya dengan sangat meyakinkan walau kami pun tak yakin dengan kebenarannya. Hahaha.
Presentasi pun selesai dan kami mengakhirinya dengan sangat puas sebenarnya. Namun tiba-tiba rasa puas itu sirna ketika Profesor Henny maju ke depan lalu mengeluarkan kata-kata yang sangat menusuk hati.
“Saya sebenarnya kecewa!”
Eh? Serasa ada reruntuhan bangunan yang jatuh menimpa. Kata-kata itu benar-benar membuat rasa percaya diri yang awalnya kami bangun tiba-tiba luntur seketika. Kecewa? Hati kami tiba-tiba menciut lalu mencari-cari apa kesalahan yang kami buat. Apakah persiapan kami memang kurang bagus dan tidak seperti yang diharapkan professor Henny? Kami pun menggigit bibir dalam hati dan kemudian menunduk sedih kembali meraba mencari letak salahnya.
“Yah, jadi saya benar-benar kecewa!”
Kata-kata yang membuat hati ini menangis seketika.
“Tapi bukan pada keempat anak yang di depan!” ucapnya kemudian kembali.
Hati kami kembali tergelitik mendengarnya.
“Ealah!” salah satu teman kelompokku yang bernama Akhmad kholidul Azhar berujar lega. Masih ingatkan siapa dia di catatan sebelumnya? Nama penentu nasib majunya kelompok 8. Hha..
Satu-persatu dari kami pun juga menghebuskan nafas lega berkali-kali. Senyum yang awalnya terlipat kini kembali terentang.
“Tolong hargai keempat teman kalian yang presentasi ya! Akan sangat sakit hati sekali ketika kita presentasi tiba-tiba ada yang datang terlambat!” rupanya professor Henny sedang menyinggung teman kami yang terlambat masuk kelas padahal waktu perkuliahan di undur setengah jam lamanya, “Nanti kalian balas saja mereka, tak usah ikut hadir dan tak usah ikut ujian mereka!” kata beliau kemudian entah bercanda atau tidak. Yang jelas saat itu rasa lega sudah cukup membuyarkan kata-kata professor Henny selanjutnya.

Presentasi #part I

Sudah lama tak posting blog, karena sebenarnya saya lebih senang posting catatan d FB. Tapi berhubung teman dekat saya tak punya FB,, postingan ini saya khususkan untuknya^^,,


Entahlah dan aku pun juga heran kepada diriku sendiri. Hari itu aku baru saja melewati sebuah presentasi yang paling mengesankan dalam hidupku sampai saat ini. Kalau dipikir-pikir, ini hanya sebuah presentasi biasa layaknya kita maju ke depan memaparkan beberapa materi. Tapi entah mengapa tiap detik menujunya menjadi sangat penuh arti.
Waktu itu tepat tanggal 22 september, beberapa kertas gulungan sempurna berada di tangan dosen kami Profesor Henny yang dijuluki anak-anak dengan sebutan Einstein. Selain karena orang ini sudah bertitel professor dan memiliki banyak titel lagi di belakanganya, rambut orang ini keriting mengembang kesamping layaknya Einstein yang sering digambarkan orang-orang. Dengan nama Prof.Dr.Ir.H. Henny Pramoedyo , MS sudah cukup membuat pikiran ini menilai bahwa orang ini sudah banyak makan ilmu pengetahuan. Pertama kali melihatnya, hati ini berdesir meraba bagaimanakah karakter orang ini sebenarnya. Dengan kacamata juga selipan guyonan diantara pembicaraannya yang berbobot, orang ini layak disebut keren dan unik. Setiap peraturan perkuliahannya begitu menantang. Tugas-tugas yang diberikan bersifat tak umum  dan yang paling kusuka adalah caranya untuk menitikberatkan sebuah nilai kejujuran dan kedisiplinan pada mahasiswanya. Karena kita pun tahu bahwa di jaman sekarang, kejujuran itu teramat mahal didapat.
Kembali pada tanggal 22 september, saat itu mahasiswa statistika A 2009 terlihat amat tegang dengan wajah harap-harap cemas. Pasalnya, ketika itu akan ditentukan kelompok siapakah yang maju pertama kali untuk presentasi  mata kuliah biometrika. Melihat persyaratan tugas paper dan presentasinya yang penuh syarat, seperti data yang dimiliki haruslah data asli dari skripsi mahasiswa yang belum diolah sampai tuntutan penggunaan software yang kami sama sekali belum pernah menyentuhnya. Dan kami harus menyelesaikan makalah dan bahan presentasinya dalam waktu 4 hari. Semua pun tak mau kedapatan duluan.
“Ada yang mau maju duluan? Ayo silahkan!” kata Proffesor Henny kemudian.
Profesor Henny mempersilakan mahasiswa yang hendak maju pertama kali.  Namun sayangnya mahasiswa kompak hanya  berdiam diri. Semua lirak-lirik teman sekelompoknya memohon agar masing-masing berdoa tak dapat yang maju duluan.
“Ayo, ini masih dasar lho materinya! Kalau kedalam lagi semakin susah!”
Rasanya kata-kata Profesor Heny itu masih tak mempan. Walaupun materinya mudah, tapi jika maju duluan tetap saja mahasiswa tak mau jika hanya diberi waktu 4 hari dengan persyaratan ini itu yang tak seperti biasanya.
“Kalau tak ada yang mau maju duluan, berarti kita undi!”
Mendengar kata undi, sontak hati para mahasiswa berdesir. Otak statistika mereka pun bermain.  Jika di undi, maka kelompok mereka semua pasti akan memiliki peluang yang sama yaitu 0.07. Tapi tak apalah, peluang itu masih lebih kecil dari 0.5. Walau begitu, semua tetap gelisah karena bagaimana pun juga semuanya masih sebuah ketidakpastian yang nyata. Kita tak pernah tahu kelompok mana yang akan maju.
“Hei, ditanya Mas Idul tuh, berani nggak duluan?” Rani, teman satu kelompokku tiba-tiba menyenggolku membuatku kemudian melongo dengan kata-katanya. Tidak, tidak! Aku belum siap jika maju duluan! Lebih baik yang kedua, biar kita bisa melihat bagaimana hasilnya kelompok pertama, lalu belajar daripadanya. Peluangnya 0.07.
Rani sebenarnya juga terlihat cemas, “Materinya sih tak masalah! Datanya ini yang susah nyarinya!” gumamnya kemudian dan membuatku mengangguk setuju dalam hati.
Kertas pun di undi, membuat seluruh mahasiswa menggigit bibir sambil komat kamit dalam hati berdoa semoga bukan kelompok mereka yang maju. Mata pun tak mau lepas sedetik pun dari tangan Proffesor Henny dan tak sabar untuk mendengar angka berapa yang akan keluar dari mulut beliau.
Profesor Henny tersenyum bercanda dan berkata, “Jangan-jangan kau tulis angka satu semua dikertas ini Pry!” katanya pada Apry, penanggung jawab mata kuliah biometrika di kelasku tersebut.
Semua pun mulai berkicau dan jelas saja hati kelompok satu pada berdesir semua. Mungkin dalam hati mereka sudah mulai menyiapkan pelajaran buat Apry jika itu benar-benar terjadi.
“Baik, yang akan maju duluan adalah kelompoknya…” katanya lagi dan kemudian sambil membuka satu kertas yang sudah di undi, setelahnya lalu melihat catatan nama kelompok.
Dan di saat itulah titik klimaks dari kegelisahan para mahasiswa yang tak mau maju presentasi pertama kali.
“Jangan-jangan kelompok kita,” tiba-tiba temanku Dinda bergumam sambil harap-harap cemas dan sontak membuatku menatapnya protes. Aduh Dinda, jangan didoakan seperti itu. its first time dan kita masih belum tahu apa-apa mengenai Profesor Henny.
“Kelompok 8!” ucap professor Henny. Mendengarnya, seketika hatiku lega karena aku adalah kelompok 9.
“Kelompok 8, Ahmad..” tiba-tiba pak Henny mulai menyebutkan nama. Ahmad? Akupun kemudian bertanya-tanya dan mulai menerawang layaknya peramal. Ahmad? Sebenarnya tepatnya adalah pikiran shocked tak percaya. Ahmad?  Bukankah ada salah satu kelompokku yang awal namanya Ahmad. Jangan-jangan…
“Kholidul… “ yah, hatiku pun kemudian pasrah. “Azhar..” rasanya seperti mendengar palu hakim berbunyi tiga kali menyatakan keputusan sidang. Ahmad kholidul Azhar, salah satu nama yang termasuk anggota kelompokku.
Tapi kenapa kelompok 8? Sepertinya professor Henny salah melihat daftar nama kelompok.
“Ahmad kholidul Azhar, Ranika Permata, Maulida Azizah, Dinda Rinai!” kata professor Henny kemudian lengkap menyebutkan nama anggota kelompok yang akan maju.
Rani seketika mengkerutkan keningnya heran, “Lho? Pak? Itu beneran kelompok 8?” katanya kemudian bingung. Pasalnya kami adalah kelompok 9.
Proffesoor Henny kembali menatap kertas dengan wajah berkerut, mungkin membenarkan fokus matanya pada kertas.
“Iya, kelompok 8 ini!” katanya kemudian yakin.
Rani masih menampakkan wajah heran dan membuat professor henny seperti tersangka yang hendak menipu mahasiswanya, “Temenan iki rek, aku lho nggak salah lihat! Tanya o Apry!” katanya kemudian dengan menggunakan bahasa Jawa ke beberapa mahasiswanya sambil mencari-cari sosok Apry. “Ki, kelompok 8 iki!” katanya lagi sambil memperlihatkan kertas undian satu persatu kepada mahasiswa dan malah membuat mahasiswa tertawa.
Rani menatapku mempertanyakan keheranannya sedangkan aku hanya bisa tersenyum kecut menerimanya.
Baiklah, intinya benar-benar kelompokkulah yang akan maju presentasi 4 hari lagi. Rasanya hati ini menangis dalam hati mendengarnya. Padahal saat itu tepat adalah hari ulang tahunku. Tugas presentasi dari Proffesor Henny tiba-tiba seperti kado ulang tahun menggenaskan yang pernah kuterima. Bayangan agenda hari Jumat, sabtu dan minggu sudah menari-nari dalam otak. Tak ada waktu untuk menyalurkan hobby meneruskan novel yang sudah digarap. Tapi apa lagi yang mau dikata, walaupun tak mau maju presentasi, pada saatnya juga giliran itu akan tiba. Jadi terima sajalah…
Usai dari perkuliahan, kami sontak menanyakan perihal kelompok kepada Apry, penanggung jawabnya.
“Heh Pry, kok bisa sih kami kelompok 8, bukannya jarkoman kami kelompok 9!”
“Heh Pry, ngaku kamu! Jangan-jangan kertasnya isinya angka 8 semua ya!”
“Heh Pry, tanggung jawab pokoknya!”
“Semua ini salah Apry!”
Apry pun menjawab dengan hati entahlah, “Emang awalnya kalian kelompok 9, nggak tahu juga kenapa jadi berubah! Pokoknya yang fix kertas yang kalian tanda tangani!”
Pokoknya semua salah Apry. Hahaha… peace Apry ^^!!

ON TWENTY

Rabu, 21 September 2011

ON TWENTY

Pernahkah kau memikirkan angka 20? Sebuah angka yang ternyata cukup besar jika kembali dipikirkan dan dibandingkan. 20, sebuah angka cantik yang jelas lebih besar dari angka 17. Pernahkah kau memandanginya dan memikirkannya dengan seksama? Memikirkan apapun yang mungkin berada dibaliknya. Entah mengapa pikiranku penuh dengannya. Malam ini rasanya hatiku berdesir jika mengingatnya, karena sebentar lagi angka itu akan menghiasi diriku. Yah, tepat jam 12 nanti tiba saatnya hari menginjakkan diri pada tanggal 22 september dan saat itulah detik-detik umurku sudah dapat dibilang berkepala dua.

So, dalam detik-detik menjelang  dinobatkannya diriku sebagai gadis berusia 20 tahun, aku ingin mengungkapkan segala bentuk terima kasihku kepada orang-orang yang sudah menghiasi hidupku dalam 20 tahun ini. Hmm.. sepertinya saat tulisan ini di publish, angka 20 itu sudah bertengger di tubuhku.

Oke, mungkin catatan kali ini juga akan terasa lebih panjang dari biasanya dan harusnya malah lebih panjang, sepanjang perjalanan 20 tahun. Itu artinya, harusnya catatan ini baru selesai dibaca setelah 20 tahun lamanya=D.

Keburu kiamat kali, masa hidup 20 tahun dihabiskan hanya untuk baca catatan ini?

=)

Bismillahirrahmanirrahim….
Dengan nama Allah dan semoga kita tetap berpegang di jalanNya dalam petunjuk Al-quran dan Hadist Rasulullah SAW. Semoga sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada Baginda Rasulullah, panutan kita dengan segala keindahan akhlaknya.

Ya Allah, izinkanlah aku menuliskan beberapa bait kata, sebagai ungkapan segala rasa atas jasa mereka yang telah memberikan hidupku penuh warna. Ya Allah, jagalah mereka agar senantiasa teguh di jalanMu.

Kepada ibu dan ayah yang begitu kucintai dan kusayangi…

Walau kalian tak dapat membaca catatan ini lewat kaca monitor dan selancaran dunia maya, cukuplah mereka yang membacanya dan terutama Allah yang tak pernah tidur dan Maha Tahu sebagai saksi atas rasa terima kasihku kepada kalian. Biarlah mereka menjadi saksi atas rasa cinta dan sayangku yang takkan pernah putus kepada kalian. Dan biarkanlah tangan ini menari, mengetikkan setiap kata yang mewakili derasnya hati untuk selalu mengingat kasih sayang kalian.

Ibu, sebenarnya jari ini begitu tak kuasa menuliskannya. Ucapan kata terima kasih tentu tak akan dapat menggantikan segala bentuk pengorbananmu saat detik-detik memunculkanku ke dunia, segala bentuk kasih sayangmu dalam mengantarkanku hingga dewasa, segala penjagaanmu ketika aku sakit, segala perhatianmu dalam mengurus kebutuhanku, hingga segala kerasnya kau memikirkan kebertahananku dalam hidup. Walau hanya dalam kurun waktu 19 tahun  mengarungi dunia bersamamu, bagiku kau adalah wanita terhebat, wanita paling tegar dan wanita yang paling kuat yang pernah ada dalam hidupku.

Ayah, seperti halnya kepada ibu, jari ini pun juga tak sanggup menuliskannya. Ucapan kata terima kasih memang belum cukup untuk menggantikan segala pengorbananmu, segala bimbinganmu, cinta dan kasih sayangmu. Tapi izinkanlah aku untuk menuliskan beribu-ribu terima kasih atas pelajaran hidup dari perjalananmu, beribu-ribu terima kasih atas kesabaranmu, penyisihan harta untuk kebertahanan hidupku hingga sampai sekarang pun, melalui sebuah anggaran dana pensiunan dari jabatanmu, kau yang terbaring di tanah membiayai kebutuhan hidupku. Dan walau dengan ayah hanya mengarungi hidup selama 16 tahun, bagiku kau adalah lelaki terhebat yang pernah ada dalam hidupku. Bagiku, perjalanan hidupmu adalah sebuah perjalanan penuh inspiratif.

Ibu, ayah, sekarang anakmu yang bernama Maulida Azizah ini sudah mendapatkan predikat usia 20 tahun. Ternyata, dia sudah cukup lama mengarungi dunia. Terima kasih atas segalanya. Walaupun anakmu ini kadang masih sering sedih merindukanmu, semoga dia bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur atas segala nikmat Tuhannya. Walaupun dia masih sering membayangkan betapa menyenangkannya jika bisa berbagi cerita dengan kalian, semoga cerita hidupnya adalah cerita yang dapat menginspirasi banyak orang. Walaupun anakmu ini masih sering membayangkan dapat menerbitkan buku lalu memamerkannya kepada kalian seraya berkata “Ayah, Ibu, hobby nulisku dulu sekarang berbuah buku”, semoga suatu saat dia memang bisa menerbitkan buku. Walaupun anakmu ini masih sering membayangkan betapa menyenangkannya jika photo wisudanya nanti akan di apit diri kalian, semoga dia akan berhasil menjadi sarjana science yang dapat bermanfaat bagi sekitarnya. Walaupun anakmu ini kadang membayangkan betapa membahagiakannya jika di photo pernikahannya nanti akan ada sosok kalian berdua, semoga suatu saat nanti dia akan menjadi istri sholehah bagi suaminya. Dan walaupun-walaupun lainnya yang sering membuktikan bahwa dia masih terbayang-bayang sosok kalian dan terlalu sering merindukan kalian, semoga dia dapat menjadi gadis yang pandai menjaga diri dari hiruk pikuk dunia dan menjadikan kematian sebagai peringatan.

Ibu, ayah, terima kasih atas segalanya. Bahkan ketika kalian sudah menemui takdir untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa, kalian masih tetap mengajarkanku banyak hal. Jika kemudian aku kembali datang dengan beberapa kata, kadangkala aku selalu memikirkan kematian kalian sebagai pelajaran tanpa kamus, yang mengajarkan arti hidup dan membuktikan bahwa hidup adalah untuk wujudkan rasa syukur dan sabar. Walau rasa “sendiri” itu kadang-kadang muncul dan menjadikan daerah melankoli terlalu gampang menyelimuti, atau kadang kala datang rasa iri melihat kelengkapan angggota keluarga orang lain, semoga rasa-rasa itu justru melatih dirinya untuk menjadi sosok dewasa dan mandiri, tak gampang bergantung pada orang lain walaupun masih sering sekali mengantungi kakak-kakaknya.

Ibu, ayah tak terasa anakmu sekarang sudah 20 tahun. Usia yang kata orang adalah ukuran usia matang bagi seseorang. Ukuran usia yang harusnya dapat menjadikannya menjadi sosok dewasa dan dapat meletakkan segala sikapnya pada tempatnya. Semoga anakmu ini dapat menjalani usia barunya dengan lebih baik lagi dengan memanfaatkan sisa umurnya sebaik mungkin.

Dan yang terakhir, sesungguhnya ini bukan rasa terima kasihku yang terakhir karena masih banyak lagi hal-hal yang menuntutku untuk berterima kasih kepada kalian. Untuk kali ini, aku ingin berterima kasih kepada kalian yang telah melahirkan kakak-kakak terbaik untukku. Kakak Imuth dan kakak Fizah, yang kini masih telaten memikirkanku. Kadangkala rasanya diri ini merasa berdosa pada mereka. Di usia 20 tahun ini, harusnya diriku sudah tak bergantung kepada mereka. Usia 20 tahun, bukankah itu bukan usia anak-anak? Tapi sayang, diri ini masih tak mampu.

Untuk kakak-kakakku yang begitu kusayangi, terima kasih atas segala perhatian dan pengorbanannya. Terima kasih atas segala hari-hari penuh warna sebagai keluarga. Banyak cerita memang dan terima kasih atas segala cerita yang dapat dikenang. Terima kasih atas segala bimbingannya, nasehatnya, cerita-cerita dan kebersamaan yang masih dijaga. Atau kadang melabuh bersama, mengenang masa lalu, kembali tertawa atas cerita lucu yang lama, atau kadang bersama mengagumi kembali  sosok-sosok hebat ibu dan ayah kita, lalu kemudian diam-diam rindu dan meneteskan air mata. Terima kasih atas segala pemberiannya baik materi maupun non materi. Sungguh, adikmu ini tak dapat menghitung berapa banyak pemberian yang sudah kalian berikan. semoga suatu saat, dia dapat membalas segala jasa yang telah kalian berikan. Doa selalu kuhanturkan untuk keluarga kecil kalian, semoga keluarga kakak-kakakku semua adalah sekuarga sakinah, mawaddah warohmah.

Kakakku tercinta, sekarang adikmu sudah berusia 20 tahun. Walaupun dia masih sering kekanak-kanakan, semoga di usianya sekarang ini dia bisa lebih dewasa lagi, bercermin dari sosok-sosok kalian yang sudah mengarungi dunia lebih dulu darinya.

Ibu, Ayah, Kak Imut, Kak Fizah, apakah kalian tahu betapa aku sangat bersyukur kepada Allah atas segala warna yang diberikannya, atas segala sosok-sosok kalian yang dihadirkannya dalam hidupku. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada kita semua. Amiin ya rabbal alamiin..=)

Sudah kubilang, tulisan kali ini adalah panjang. Rasa terima kasihku belum berhenti sampai disini. Masih banyak nama yang belum keluar lewat tarian keyboard netbookku ini.

Kembali aku ingin mengungkapkan rasa terima kasihku kepada mereke-mereka yang menguaskan banyak warna kepada hidupku.

Pertama, terima kasih kepada masa TKku walau aku banyak lupa nama-nama mereka yang terlibat di dalamnya. Terima kasih untuk satu-satunya tetangga rumahku. Kepada mereka yang mengisi masa SDku, Humairoh, Fatma, beserta the krucils lainnya seperti Mariati, Faris, Novia (ah, bagaimana ya mereka sekarang? Tetangga-tetangga yang menjadi teman mainku setiap hari).

Terima kasih juga kepada teman masa SDku Fahriatul Yunida yang paling banyak menoreh warna baik merah, kuning hijau maupun kelabu saat SD dan baru saja aku tahu ternyata kau sedang dirundung duka. Semoga engkau tabah dalam menghadapinya dan aku tahu kau pasti lebih tegar dariku.

Hmm.. ini masih berkutat dengan teman SDku, terima kasih untuk temanku Ina, Lisda, Mawaddah, Jenifer, Yeni. Aku juga masih ingat masa SDku dengan Rita, Rahman, Budi, dan siapa ya itu namanya? Waaah.. kenapa aku jadi lupa >,<.. satu lagi seorang gadis cewek yang sangat berkesan namun aku lupa namanya. Yang jelas, terima kasih atas masa SDnya. Walau beberapa aku tak tahu dimana mereka berada.

Masih berkutat masa SD, masih ada satu nama yang bagiku cukup sakral. Karena dari dialah aku pertama kali mengenal yang namanya majalah bobo. Sebuah majalah yang ternyata cukup membuatku gila menulis sebuah cerita pendek atau berani sekali bermimpi jadi penulis skenario dan sutradara. Terima kasih untuk Roni, entah dimana kau sekarang berada dan bagaimana wujudmu. Dalam hal tulis menulis aku juga cukup berterima kasih kepada teman SDku Jennifer. Masih ingat sekali saat-saat kami bertukaran buku, membaca karya masing-masing. Padahal kalau dibaca kembali, karya anak SD itu benar-benar datar =.=”

Terima kasih juga untuk guru-guru ngajiku saat SD, Ibu Ida, kemudian wali kelasku Bu sapa ya? Astaghfirullah… tega nian daku lupa>,<,, pokoknya ibu itulah.. ibu yang cukup berkesan dan all of guru-guru bersama teman-teman SDN Pasar baru 2 Pagatan.

Kini menjajaki masa-masa SMP. Terima kasih untuk sahabatku tercinta yang masih setia menjadi makhluk yang paling kucari saat di Banjarmasin. Ayoh dan Nida, Love you so much. Kalian cukup banyak mengisi hari-hariku, dan memberikan warna yang beragam. Juga kepada Intan, Restu, Laily, Hana, Ulfah, Sabrina, Eka. Oke, satu masa yang paling bersinar saat kita semua berkecimpung di dunia MC FM, bertemu dengan Kaori, Meirin, dkk, menorehkan banyak cerita yang bahkan ada yang berujung panjang.

 Terima kasih juga untuk para guru, Pak Isro beserta istrinya Kak Melisa, Pak Taufik yang cukup membuatku dapat mencicipi indahnya menjadi orang “gila” di panggung teater walau sekarang aku sudah lupa cara-cara berakting. Bu Sholatiah dan pak Jayadi, betapa saat masa di ajar dengan kalianlah aku merasa matematika itu mudah. Tapi mengapa sekarang terasa susah@.@? Terima kasih dan beribu terima kasih untuk teman-teman dan guru-guru SMP Islam Sabilal Muhtadin yang sudah mewarnai masa putih biruku.

Masih masa SMP, terima kasih untuk sepupuku Aulia dan Aman juga paman yang telah memberikan tumpangan rumahnya selama diriku menempuh studi masa SMP. Juga kepada sepupuku Lisna, Faisal, Iyus. Ada hal yang tak pernah kulupakan saat berada di rumah kalian sewaktu kelas 1 SMP, dan menjadi awal lebih banyaknya lagi warna dahsyat dalam hidupku.

Terima kasih juga kepada mereka-mereka yang telah mengisi masa putih abu-abuku terutama pada masa-masa di asrama. Terima kasih kepada temanku Irva dan Ila atas masa-masa gila saat di asrama. Kepada Fusha, Mbak Endah dan juga Rahma. Hei, sadarkah kalian telah sedikit menganggu keluguan dan kepolosanku=D? kepada Mbak Faiz yang masih sedikit mengingatkanku atas menyenangkannya main drama. Terima kasih kepada Lala, Gena, Satiti, Memey, Estu dan all of anak-anak Damaskus.

Mengingat asrama, sebenarnya ini adalah masa-masa yang memang bisa dibilang cukup rumit warnanya. Segala kearifan dan bahkan kekonyolan banyak kudapat disana. Asrama MAN3 Malang, terima kasih banyak atas naungannya selama tiga tahun. Ada ustadz yang benar-benar berkesan selama disana yaitu Ustadz Taufik dan Ustadz Gunawan, semoga Allah melimpahkan berkah dan kasih sayang kepada beliau atas ilmu-ilmu yang diturunkannya. Menyesal rasanya dulu tak memanfaatkan masa di asrama dengan baik untuk menyerap habis ilmu-ilmu mereka. Terima kasih Ustadz atas petuah-petuahnya selama ini. Terima kasih juga kepada pengasuh asrama damaskus yang sudah sangat sering saya repotkan. Mom Nita, ustadzah Muhrofin dan Ustadzah Vita.

Terima kasih untuk teman-teman masa SMAku, Tsabita Sabrina, teman yang bagiku cukup unik. Terima kasih kepada Eva, Nufa, Hilda, Opha and the genknya seperti Marlina, Sofa, Rilla dan Dina, teman-teman IPA2.

Ucapan terima kasih juga tak lepas untuk seluruh guru-guru di MAN3 Malang. Terima kasih kepada Pak Insan yang dulu sabar sekali mengajarkan kami mata kuliah Fisika, mengantarkan kami agar dapat lulus UN. Terima kasih kepada Pak Sukri yang cukup menginspirasi saya dalam pelajaran biologi, juga Bu Yayuk, Bu Farida yang begitu pandai dalam memahamkan matematika, Pak Jito yang cukup membuat suasana pelajaran kimia terasa menyenangkan, Pak Pur, Bu Lilis yang membuat saya sering terkagum-kagum padanya dan seluruh guru-guru MAN 3 Malang yang tidak bisa disebutkan satu-satu.

Phew, mengingat masa SMA memang tak akan ada habisnya. Satu kata, terima kasih kepada seluruh teman-teman MAN3Malang dan juga asrama yang sudah memberikan banyak warna bagi hidupku.

Dan sekarang, menginjak masa kuliah. Masa yang ternyata memberikan banyak rasa nano-nano di dalamnya. Untuk mereka-mereka yang ada disini, aku pun ingin mengungkapkan terima kasih banyak.

Oke, mungkin catatan kali ini akan kututup. Lho? Kok ditutup? Bukankah mereka yang disini belum disebutkan satu-satu? Catatan ini juga masih kurang panjang dari yang dikira. Bukankah aku bilang kali ini catatannya akan lebih panjang dari biasanya? Memang, memang akan panjang. Yah, itu jika mereka-mereka yang mengisi hari-hariku saat aku menjadi mahasiswa kumasukkan juga satu persatu. Kalian tahukan bahwa mereka-mereka yang masih mengisi hari-harimu adalah yang akan paling banyak teringat. Saking banyaknya mereka yang kuingat berserta jasa-jasanya, rasanya ingin sekali memberikan mereka semua ruang khusus. Dimana? Dalam doa-doa panjang agar hubunganku dengan mereka-mereka menjadi lebih baik lagi dalam usia 20 tahunku.

Ribuan terima kasih sebenarnya sudah kupersiapkan. Tapi, biarlah mereka, teman-teman yang masih akan mengisi hariku sampai kepala dua ini terlewati tersebut kusimpan dalam doa-doa. Semoga ke depannya, kami semua dapat saling mengisi hari dengan lebih baik lagi. Semoga Allah senantiasa mengikat hati kami untuk bertaut dijalanNya, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Untuk mereka-mereka yang merasa masih akan saling mengisi bersamaku dalam usia 20 tahunku ke depan, terima kasih banyak untuk warna kemarin dan semoga aku bisa memberikan warna yang lebih baik lagi untuk kalian semua=)

Mengenai Saya

Foto Saya
Apalah arti sebuah nama, tapi ternyata nama sangatlah berarti. siapa nama anda dan bisa jadi kehidupan anda adalah seperti nama anda,,,

Entri Populer

Followers

Daftar Blog Saya

Category list