[Fiksilisasi Lirik :D] Bila Waktu Telah Berakhir
Senin, 11 Juli 2011
Diposting oleh
Azizah Maulida
akan dunia yg sementara
meninggalkan dirimu
waktu terhenti tak kau sadari
mengulangkan masa lalu
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya
teman sejati hanyalah amal
teman sejati tingallah sepi
Label: Fiksi
DETIK-DETIK ITU??? (end)
Rabu, 05 Januari 2011
Diposting oleh
Azizah Maulida
Wajah-wajah itu berderai air mata, satu sama lain saling mengelus pundak menenangkan. Wanita tua yang kukenal sebagai ibuku itu menutup wajahnya terisak di depan rumahku. Di samping kanannya kak Naura, kakak perempuanku yang pertama memeluknya erat. Disamping kirinya, kak Evi, kakak keduaku mengelus pundak ibu berdiri tak kalah isak.
Aku melangkah gontai, memandang ketiga wanita penting dalam hidupku itu kosong. Aku melihatnya biasa, tak ada perasaan khawatir, perasaan sedih, panik dan segala macamnya. Seperti memandang pemandangan tanpa makna hingga aku menghampiri mereka, tak ada perasaan apapun yang muncul.
Mereka bertiga terus menangis. Aku hanya melihatnya sebagai tontonan biasa untuk kemudian melihat mobil didepanku yang siap meninggalkan rumah. Di dalamnya, seorang pria 50 tahunan sibuk memeriksa stir mobil dan kemudian menyalakan mesin. Wajahnya teduh, kontras dengan wajah diluarnya yang berderai air mata.
Ketiga wanita itu masih menangis dan aku memandang ayahku yang berada di dalam mobil dengan tatapan kosong. Beliaupun memandangku dan kemudian menyunggingkan senyum penuh arti. Senyum itu masih bertahan sampai mobil itu akhirnya mundur dan kemudian melaju pergi entah kemana.
Handphone mungilku tiba-tiba bergetar, sedikit membuyarkan lamunanku tentang mimpiku tadi malam. Tanganku lantas mengambil benda haram di asramaku tersebut dengan cepat.
Mama Sayang
Label: Fiksi
DETIK-DETIK ITU,,, (part II)
Rabu, 22 Desember 2010
Diposting oleh
Azizah Maulida
Sungguh, wanita itu ingin sekali marah. Sungguh hatinya sekarang teramat panas. Ingin sekali dia mengumpat kasar namun ditahannya. Apan-apan ini?
Ayah yang sudah melihat gelagat tak nyaman dari anaknya itupun segera memegang tangan anaknya tersebut pelan dan tersenyum mendamaikan. Ayah menggeleng pelan isyarat menyuruhnya untuk menahan amarah.
“Sudahlah Naura, jangan! Jangan kau tampakkan kemarahanmu itu!” pintanya kemudian.
Naura memandang ayahnya protes. Ayah? Bisa-bisanya ayah menerima begitu saja perlakuan orang-orang itu. Sungguh Naura tak dapat menerimanya. Ini menyangkut keyakinan ayah, menyangkut iman.
“Kaukan sudah tahu bagaimana keluarga nenek?” katanya lagi menenangkan. Naura hanya diam walau hati masih saja terus protes.
“Jagalah hubungan keluarga kita!” kata ayah lagi kemudian. “Yakinlah hati ayah tidak apa-apa! Ayah hanya bisa tertawa dalam hati melihat semuanya!”
Wanita yang bernama Naura itu memandang ayahnya tak tega. Ayah? Tidak ada kerelaan sama sekali dalam hatinya jika ayahnya dilakukan ritual aneh macam itu. Ah, sebenarnya Naura juga tidak terlalu tahu bagaimana asalnya hingga keluarga neneknya yang dikampung itu memvonis ayahnya yang tengah terkena guna-guna. Bukankah sudah jelas apa yang dikatakan dokter wanita itu beberapa hari yang lalu? Penyakit ayah adalah kanker hati stadium 3.
Label: Fiksi
Mimpi Itu????
Sabtu, 18 Desember 2010
Diposting oleh
Azizah Maulida

“Aku adalah Tuhan!” Akunya tiba-tiba. Aku yang saat itu masih konsentrasi menunggu bis pulang kini tersentak kaget, samar-samar kudengar bapak tua itu mengaku Tuhan.
“Akulah Tuhanmu!” akunya tiba-tiba.
Sebenarnya tak jadi masalah jika dia mengaku Tuhan, akan kuanggap dia gila, tapi masalahnya dia tengah mengajaku bicara. Jadi initinya dia sedang mengaku bahwa dirinya Tuhan kepadaku dan bukan kepada orang samping kiri, kanan, depan dan belakangku.
Mendengar pengakuannya tentu saja aku melongo sesaat dan kemudian langsung tertawa terbahak-bahak. Wajah itu memang sudah mulai keriput. Beberapa rambut putih muncul dari dagunya. Dan dengan wajah yang datar tiba-tiba dia mengakui dirinya sebagai Tuhan. Siapa yang akan percaya? Apalagi di zaman yang sekarang ini.
Label: Fiksi
DETIK-DETIK ITU,,, (part I)
Diposting oleh
Azizah Maulida
Gerimis, setetes demi setetes, air itu jatuh dari langit. Aku melihatnya, di dalam kegelapan malam, garis-garis tipis yang samar berjatuhan dengan cepat ke tanah. Jalan di depanku begitu lebar, namun jalan itu kian mengecil dan semakin tak kelihatan seiring jauhnya pandangan.
Telepon tiba – tiba berdering, sedikit mengejutkan relung hatiku. Namun aku tak begitu peduli, tidak ada rasa penasaran siapakah yang menelpon saat itu, tapi tubuh tentu saja tetap merspon dan akupun mengangkatnya.
“Assalamu`alaikum,,,” sapaku.
“Dek, ayah meninggal!” suara kakak perempuanku di seberang sana.
Meninggal? Aku hanya meresponnya dengan biasa. “Oh…” ayah meninggal ya, batinku. Tak ada perasaan sedih maupun kecewa, semua hanya biasa seakan kabar itu tak ada.
Mataku perlahan membuka, aku melirik jendela. Sepertinya hari mulai terang dan jendela yang mulai terang itu sempurna mengejutkanku. Pertama kali yang kuingat, jelas aku belum menunaikan sholat subuh dan hari sudah mulai meninggalkanku untuk menunaikannya. Sudah berapa lama aku tidur? Sebegitu lelahkah aku sehingga aku bangun kesiangan seperti ini? Tak pikir panjang lagi aku langsung beranjak dari kasur, namun belum sempurna ku menjauh dari kasur, handphoneku tiba-tiba berdering.
My sister `1 memanggil
Kaki yang sebelumnya hendak bergerak kini seketika terkunci. Deg? Jantungku berdetak kencang. Telepon dari kakak? Otakkupun kini berputar, mengembalikan beberapa memori yang belum lama lewat. Bukankah baru saja aku bermimpi kakakku menelpon? Bukankah baru saja aku bermimpi kakakku mengabariku kabar buruk? Bukankah baru saja aku bermimpi kakakku mengabarkan bahwa ayahku meninggal? Akupun langsung ciut ditempat. Sesaat gagang telepon itu seperti monster yang siap menerkamku. Ada apakah gerangan kakakku menelpon? Akankah mimpi yang barusan kualami menjadi kenyataan untuk detik ini juga?
Lama aku memandang handphone itu hingga akhirnya memberanikan diri mengambilnya. Dengan rasa cemas akupun memencet tombol jawab. Aku meneguk air liur hingga akhirnya menyapa kakaku yang ada diseberang sana.
“Assalamualaikum,”
“Dek?” suara kakak perempuanku diseberang sana.
“Ya?” aku mejawabnya lagi dengan hati berkecamuk, tanpa sadar akupun mondar mandir ketakutan, takut ada kabar buruk yang keluar dari suara seberang itu.
“Gimana kabarnya? Lama nih nggak nelepon!”
Aku masih memasang kuping tajam dengan hati yang amat gelisah samapai lupa bahwa aku belum menunaikan sholat subuh. Aku menjawab setiap pertanyaan dan sapaannya. Namun, hatiku terus gelisah takut mimpi buruk itu benar–benar terjadi hingga akhirnya kuberanikan untuk menanyakan kabar ayah.
“Ngomong-ngomong gimana kabar ayah?” tanyaku kemudian memberanikan diri menanyakannya, karena kudengar ayahku beberapa hari lalu masuk rumah sakit dan aku ingin memastikan bahwa tak ada hubungannya kejadian ini dengan mimpi yang barusan kualami.
“Alhamdulillah, ayah sudah keluar dari rumah sakit, tapi keadaannya masih sedikit lemah. Adek do`ain aja ya biar ayah cepat sembuh. Jangan lupa sholat Tahajjud, sholat hajat biar ayah disembuhkan!”
Serasa lepas dari maut. Hatiku akhirnya bisa benar-benar plong mendengarnya. Mimpi pasti hanyalah bunga-bunga tidur saja.
~~~~~~~~~~
“Ayahmu ini dibawa pulang saja, ada masa dihatinya dan sudah parah,” kata dokter wanita itu menjelaskan, “Sudah, bawa ayahmu pulang dan penuhi segala keinginannya!” tambahnya lagi seakan-akan harapan itu memang sudah tidak ada. “Saya akan berikan obat rawat jalan untuk 11 hari!”
Kedua wanita bersaudara yang sedang konsultasi dengan dokter itupun saling pandang hingga akhirnya sibuk dengan rasa berkecamuk dalam hati. Hati mereka perih dan rasanya air mata itu sudah hendak jatuh di detik itu juga.
Label: Fiksi
