Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

[Fiksilisasi Lirik :D] Bila Waktu Telah Berakhir

Senin, 11 Juli 2011

Ketika dunia hampir dalam genggaman, semua perhiasannya adalah tujuan. Dan ketika kegagalan demi kegagalan berhamburan. Ah, ini hanya kesuksesan yang tertunda. Kaki pun terus melangkah. Mata lurus menatap ke atas. Aku akan mencapainya. Namun, ketika keadaan tak lagi mendukung, kegagalanpun dirasa bukan lagi sebuah proses menuju kesuksesan. Hati merasa iri, serasa jatuh harga diri. Lihatlah mereka yang berhasil dengan segala perhiasannya.

bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yg sementara

Harusnya akulah yang mendapatkan posisi itu. Harusnya perhiasan dunia itu milikku dan bukan miliknya. Kenapa? Kenapa? Kenapa dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Ah, kenapa aku selalu berada di bawahnya?

bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
meninggalkan dirimu

Bagaimana kalau semua hilang dan pergi? Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Bukankah yang kudapatkan masih sedikit?

bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari

Tiba-tiba kepalaku berdenyut sakit. Aku pusing. Apa? Sekarang aku sudah pusing? Bagaimana jika setelah pusing tiba-tiba aku jatuh sakit lalu bertambah parah dan parah? Maka waktuku benar-benar berhenti.

masikah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu

Ah, tentu waktu suatu saat akan berhenti tanpa disadari. Tak akan ada jalan untuk kembali. Masa lalu tak akan terulangi.

dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya

Semua hal yang kudapatkan saat ini akan hilang. Aku tahu ini hanya sedikit. Tidak sebanyak punya mereka. Lantas, kenapa aku selalu memikirkan mereka yang mendapat lebih banyak? Bukankah ini hanya sementara?

bila waktu tlah memenggil
teman sejati hanyalah amal


Aku ingin masih mendaki, menggapai apa yang ingin kuraih. Mungkinkah aku bisa menghilangkan rasa iri ketika melihat yang lain bisa mencapainya lebih cepat? Mendapatkannya lebih banyak? Ah, siapa aku yang harus terus menerus memikirkan itu? kenapa tak kupikir saja berapa banyak amalku sambil berlalu mendaki, mencapai mimpi.

bila waktu telah terhenti
teman sejati tingallah sepi

Dan ketika waktu terhenti, mereka-mereka tentulah lenyap dari diri. Setelahnya tentu diri sendiri menghadap sepi. Menanggung semuanya sendiri. Mempertanggung jawabkan apa yang sudah diperbuat diri.

DETIK-DETIK ITU??? (end)

Rabu, 05 Januari 2011



Wajah-wajah itu berderai air mata, satu sama lain saling mengelus pundak menenangkan. Wanita tua yang kukenal sebagai ibuku itu menutup wajahnya terisak di depan rumahku. Di samping kanannya kak Naura, kakak perempuanku yang pertama memeluknya erat. Disamping kirinya, kak Evi, kakak keduaku mengelus pundak ibu berdiri tak kalah isak.

Aku melangkah gontai, memandang ketiga wanita penting dalam hidupku itu kosong. Aku melihatnya biasa, tak ada perasaan khawatir, perasaan sedih, panik dan segala macamnya. Seperti memandang pemandangan tanpa makna hingga aku menghampiri mereka, tak ada perasaan apapun yang muncul.

Mereka bertiga terus menangis. Aku hanya melihatnya sebagai tontonan biasa untuk kemudian melihat mobil didepanku yang siap meninggalkan rumah. Di dalamnya, seorang pria 50 tahunan sibuk memeriksa stir mobil dan kemudian menyalakan mesin. Wajahnya teduh, kontras dengan wajah diluarnya yang berderai air mata.

Ketiga wanita itu masih menangis dan aku memandang ayahku yang berada di dalam mobil dengan tatapan kosong. Beliaupun memandangku dan kemudian menyunggingkan senyum penuh arti. Senyum itu masih bertahan sampai mobil itu akhirnya mundur dan kemudian melaju pergi entah kemana.

Handphone mungilku tiba-tiba bergetar, sedikit membuyarkan lamunanku tentang mimpiku tadi malam. Tanganku lantas mengambil benda haram di asramaku tersebut dengan cepat.
Mama Sayang

DETIK-DETIK ITU,,, (part II)

Rabu, 22 Desember 2010






Sungguh, wanita itu ingin sekali marah. Sungguh hatinya sekarang teramat panas. Ingin sekali dia mengumpat kasar namun ditahannya. Apan-apan ini?

Ayah yang sudah melihat gelagat tak nyaman dari anaknya itupun segera memegang tangan anaknya tersebut pelan dan tersenyum mendamaikan. Ayah menggeleng pelan isyarat menyuruhnya untuk menahan amarah.

“Sudahlah Naura, jangan! Jangan kau tampakkan kemarahanmu itu!” pintanya kemudian.

Naura memandang ayahnya protes. Ayah? Bisa-bisanya ayah menerima begitu saja perlakuan orang-orang itu. Sungguh Naura tak dapat menerimanya. Ini menyangkut keyakinan ayah, menyangkut iman.

“Kaukan sudah tahu bagaimana keluarga nenek?” katanya lagi menenangkan. Naura hanya diam walau hati masih saja terus protes.

“Jagalah hubungan keluarga kita!” kata ayah lagi kemudian. “Yakinlah hati ayah tidak apa-apa! Ayah hanya bisa tertawa dalam hati melihat semuanya!”

Wanita yang bernama Naura itu memandang ayahnya tak tega. Ayah? Tidak ada kerelaan sama sekali dalam hatinya jika ayahnya dilakukan ritual aneh macam itu. Ah, sebenarnya Naura juga tidak terlalu tahu bagaimana asalnya hingga keluarga neneknya yang dikampung itu memvonis ayahnya yang tengah terkena guna-guna. Bukankah sudah jelas apa yang dikatakan dokter wanita itu beberapa hari yang lalu? Penyakit ayah adalah kanker hati stadium 3.

Mimpi Itu????

Sabtu, 18 Desember 2010



“Aku adalah Tuhan!” Akunya tiba-tiba. Aku yang saat itu masih konsentrasi menunggu bis pulang kini tersentak kaget, samar-samar kudengar bapak tua itu mengaku Tuhan.

“Akulah Tuhanmu!” akunya tiba-tiba.

Sebenarnya tak jadi masalah jika dia mengaku Tuhan, akan kuanggap dia gila, tapi masalahnya dia tengah mengajaku bicara. Jadi initinya dia sedang mengaku bahwa dirinya Tuhan kepadaku dan bukan kepada orang samping kiri, kanan, depan dan belakangku.

Mendengar pengakuannya tentu saja aku melongo sesaat dan kemudian langsung tertawa terbahak-bahak. Wajah itu memang sudah mulai keriput. Beberapa rambut putih muncul dari dagunya. Dan dengan wajah yang datar tiba-tiba dia mengakui dirinya sebagai Tuhan. Siapa yang akan percaya? Apalagi di zaman yang sekarang ini.

DETIK-DETIK ITU,,, (part I)




Gerimis, setetes demi setetes, air itu jatuh dari langit. Aku melihatnya, di dalam kegelapan malam, garis-garis tipis yang samar berjatuhan dengan cepat ke tanah. Jalan di depanku begitu lebar, namun jalan itu kian mengecil dan semakin tak kelihatan seiring jauhnya pandangan.
Telepon tiba – tiba berdering, sedikit mengejutkan relung hatiku. Namun aku tak begitu peduli, tidak ada rasa penasaran siapakah yang menelpon saat itu, tapi tubuh tentu saja tetap merspon dan akupun mengangkatnya.
“Assalamu`alaikum,,,” sapaku.
“Dek, ayah meninggal!” suara kakak perempuanku di seberang sana.
Meninggal? Aku hanya meresponnya dengan biasa. “Oh…” ayah meninggal ya, batinku. Tak ada perasaan sedih maupun kecewa, semua hanya biasa seakan kabar itu tak ada.

Mataku perlahan membuka, aku melirik jendela. Sepertinya hari mulai terang dan jendela yang mulai terang itu sempurna mengejutkanku. Pertama kali yang kuingat, jelas aku belum menunaikan sholat subuh dan hari sudah mulai meninggalkanku untuk menunaikannya. Sudah berapa lama aku tidur? Sebegitu lelahkah aku sehingga aku bangun kesiangan seperti ini? Tak pikir panjang lagi aku langsung beranjak dari kasur, namun belum sempurna ku menjauh dari kasur, handphoneku tiba-tiba berdering.
My sister `1 memanggil
Kaki yang sebelumnya hendak bergerak kini seketika terkunci. Deg? Jantungku berdetak kencang. Telepon dari kakak? Otakkupun kini berputar, mengembalikan beberapa memori yang belum lama lewat. Bukankah baru saja aku bermimpi kakakku menelpon? Bukankah baru saja aku bermimpi kakakku mengabariku kabar buruk? Bukankah baru saja aku bermimpi kakakku mengabarkan bahwa ayahku meninggal? Akupun langsung ciut ditempat. Sesaat gagang telepon itu seperti monster yang siap menerkamku. Ada apakah gerangan kakakku menelpon? Akankah mimpi yang barusan kualami menjadi kenyataan untuk detik ini juga?
Lama aku memandang handphone itu hingga akhirnya memberanikan diri mengambilnya. Dengan rasa cemas akupun memencet tombol jawab. Aku meneguk air liur hingga akhirnya menyapa kakaku yang ada diseberang sana.
“Assalamualaikum,”
“Dek?” suara kakak perempuanku diseberang sana.
“Ya?” aku mejawabnya lagi dengan hati berkecamuk, tanpa sadar akupun mondar mandir ketakutan, takut ada kabar buruk yang keluar dari suara seberang itu.
“Gimana kabarnya? Lama nih nggak nelepon!”
Aku masih memasang kuping tajam dengan hati yang amat gelisah samapai lupa bahwa aku belum menunaikan sholat subuh. Aku menjawab setiap pertanyaan dan sapaannya. Namun, hatiku terus gelisah takut mimpi buruk itu benar–benar terjadi hingga akhirnya kuberanikan untuk menanyakan kabar ayah.
“Ngomong-ngomong gimana kabar ayah?” tanyaku kemudian memberanikan diri menanyakannya, karena kudengar ayahku beberapa hari lalu masuk rumah sakit dan aku ingin memastikan bahwa tak ada hubungannya kejadian ini dengan mimpi yang barusan kualami.
“Alhamdulillah, ayah sudah keluar dari rumah sakit, tapi keadaannya masih sedikit lemah. Adek do`ain aja ya biar ayah cepat sembuh. Jangan lupa sholat Tahajjud, sholat hajat biar ayah disembuhkan!”
Serasa lepas dari maut. Hatiku akhirnya bisa benar-benar plong mendengarnya. Mimpi pasti hanyalah bunga-bunga tidur saja.

~~~~~~~~~~

“Ayahmu ini dibawa pulang saja, ada masa dihatinya dan sudah parah,” kata dokter wanita itu menjelaskan, “Sudah, bawa ayahmu pulang dan penuhi segala keinginannya!” tambahnya lagi seakan-akan harapan itu memang sudah tidak ada. “Saya akan berikan obat rawat jalan untuk 11 hari!”
Kedua wanita bersaudara yang sedang konsultasi dengan dokter itupun saling pandang hingga akhirnya sibuk dengan rasa berkecamuk dalam hati. Hati mereka perih dan rasanya air mata itu sudah hendak jatuh di detik itu juga.

Mengenai Saya

Foto saya
Apalah arti sebuah nama, tapi ternyata nama sangatlah berarti. siapa nama anda dan bisa jadi kehidupan anda adalah seperti nama anda,,,

Entri Populer

Followers

Daftar Blog Saya