Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

[Kaca] Berbagi

Jumat, 05 Agustus 2011

Gadis kecil itu tiba-tiba ingin sekali membeli es krim. Maka, pergilah dia kepada ibunya dan mencoba meminta uang untuk membeli es krim. Ibu pun memberinya uang yang jumlahnya bagi si gadis kecil terlampau besar. Matanya berbinar melihat uang yang banyak tersebut. Dia pun segera pergi ke sebuah toko dan membeli sebuah es krim. Dia memilih es krim yang menurutnya tidak murah dan juga tidak mahal.

Biasanya kalau ibu memberinya uang, maka sebanyak apapun sudah menjadi miliknya. Tapi entah mengapa gadis kecil ini berinisiatif untuk mengembalikan sisa uangnya karena menurutnya uang yang diberi ibunya terlampau lebih banyak. Dan ketika sang gadis mengembalikan uang, ibu malah menegurnya karena sesuatu.

“Belinya cuman satu?”

Si gadis kecil mengangguk.

“Kok cuman satu? Yang lain nggak dibelikan?”

Si gadis melirik kesepupu-sepupunya yang saat itu lagi berada di rumahnya. Tak sedikit pun terpikir olehnya untuk membelikan sepupunya es krim. Dia merasa uang yang dia pegang adalah milik ibunya. Kalau sepupunya mau es krim, sepupunya harus minta uang juga pada ibunya sendiri.

“Kalau punya makanan itu harus berbagi! Ayo belikan juga yang lainnya es krim!” kata ibu lagi seraya memberikan uang yang sudah dikembalikan si gadis kecil sebelumnya.

Setelah peristiwa tersebut, sang gadis kecil pun mendapat pelajaran tentang pentingnya berbagi kepada sesama. Maka tahulah dia sekarang arti kedermawanan. Dari ibunyalah dia belajar harusnya berbagi.
Pernah suatu saat ibunya memasak dan masakannya begitu wangi. Sang gadis ikut memperhatikan masakan ibunya di kala siang tersebut. Ibunya pun mengatakan sesuatu padanya.

“Kalau masakan kita wangi dan tercium tetangga, kita harus membagi kepada mereka!”

Si gadis mencerna kata-kata ibunya tersebut dalam hati sampai dia dewasa dan menemukan sebuah hadis. Ternyata apa yang disampaikan ibunya waktu itu adalah tuntunan Rasulullah SAW yang harusnya kita ikuti.

Kami bertanya kepada Rasulullah,”Wahai Rasulullah, apa hak tetangga itu? Rasulullah saw menjawab, “Jika ia berhutang kepadamu, maka berilah dirinya hutang, jika ia meminta bantuan, bantulah ia, jika ia membutuhkan sesuatu, berilah ia, jika ia sakit maka kunjungilah, jika ia mati maka selenggarakanlah jenazahnya; jika ia mendapatkan kebaikan, bergembiralah dan ucapkanlah suka cita kepadanya, jika ia ditimpa musibah, turutlah sedih dan berduka. Janganlah engkau menyakitinya dengan api periuk belangamu (maksudnya jika anda memasak jangan sampai baunya tercium tetangga), kecuali engkau memberi sebagian kepadanya. Janganlah, engkau mempertinggi bangunan rumahmu, agar bisa melebihi rumahnya, dan menghalangi masuknya angin, kecuali atas izin darinya, jika engkau membeli buah-buahan, maka berikan sebagian buah itu kepadanya, Jika engkau tidak mau memberinya, maka masukkan ia ke dalam rumahnya dengan sembunyi-sembunyi, dan janganlah anakmu keluar dengan membawa satupun buah itu, sehingga anaknya menginginkannya.Apakah kalian memahami apa yang aku katakan kepada kaliuan, bahwa hak tetangga tidak akan pernah ditunaikan kecuali oleh sedikit orang yang dikasihi Allah? [Hadits hasan, tersebut dalam Tafsir Qurthubiy]

[Kaca] Letakkan Pada Tempatnya

Gadis kecil bermata coklat itu pulang dengan hati riang. Dia baru saja selesai melaksanakan ibadah sholat tarawih di sebuah Mesjid dekat rumahnya. Di rumah, dia menemukan ibunya yang masih sibuk di dapur, membereskan piring-piring yang belum dicuci sehabis berbuka.

Sang anak menatap ibunya berbinar, dia ingin mengabarkan sesuatu yang menurutnya adalah hal yang membanggakan.

“Bu, tadi waktu ceramah aku membaca Al-quran. Hari ini bacaan Al-quranku bertambah Bu!” katanya sambil menatap wajah ibunya dengan wajah riang berharap mendapat pujian yang pantas.

Namun, bukan pujian yang diapatkannya melainkan sebuah teguran.

“Lho? Kok membaca Al-qurannya waktu ceramah?” sang ibu menatapnya lembut. “Kalo ada yang ceramah harus didengarkan! Nggak boleh itu membaca Al-quran waktu ada yang ceramah!”

Sang anak terdiam. Perbuatan yang dikiranya membanggakan ternyata sebenarnya salah dimata ibunya. Karena gadis itu cenderung malas mendengarkan ceramah, dia pun ingin menggunakan waktu tersebut untuk menambah bacaan Al-qurannya. Gadis kecil tersebut sebenarnya sedih, namun setelahnya dia pun selalu menahan diri ketika ada ceramah berlangsung untuk membaca Al-quran.  Jangan membaca Al-quran waktu ada yang ceramah, itulah mind setnya saat itu. membaca Al-quran adalah ibadah, namun tak seharusnya dilaksanakan saat ada yang ceramah.

Dan saat dewasa, ketika sang gadis mengingat kembali peristiwa tersebut, 1 pelajaran yang didapatkannya. Sebenarnya yang disampaikan ibunya tersebut  adalah adab dalam mendengarkan. Begitu banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk menambah bacaan Al-quran kita. Tapi kenapa harus saat ceramah berlangsung? Saat seseorang memberikan kita sebuah ilmu, sebuah nasihat yang seharusnya kita tanamkan dalam hati dan amalkan dalam perbuatan.

Maka, tepatlah sang gadis kemudian berpikir "Letakkanlah sesuatu itu pada tempatnya".  Kadang kala memang kita melakukan sesuatu tidak pada tempatnya. Yang dilakukan adalah hal yang dinilai baik, namun sayangnya waktunya tidak pas.

[Kaca] Tentang Sabar

Kamis, 04 Agustus 2011

Seorang gadis datang kepada temannya dan mengeluh panjang lebar.
“Aku sedang punya masalah! Ini benar-benar masalah yang besar! Aku butuh solusi yang benar-benar konkrit!!!”
“Ya, aku tahu! Sabarlah!” temannya menjawab.
“Sekarang aku tak butuh sabar! Aku butuh solusi yang kongkrit!”
Temannnya terdiam. Wajahnya mengkerut. Hampir saja amarahnya mau keluar, tapi jika amarah itu keluar, dia tidak akan menjadi orang yang sabar dalam menghadapi orang yang tak sabar. Dia pun menghembuskan napasnya berat.
“Sesungguhnya aku menjadi teramat sedih. Apakah sabar hanya sebuah teori?”
Sang gadis terdiam. Lama gadis itu menunduk. Tiba-tiba bahunya terguncang dan ketika gadis tersebut mengangkat wajahnya, yang terlihat adalah merahnya mata dan hidung.
“Aku sudah tidak tahan. Aku tak kuat! Aku benar-benar benci dengan kondisi ini!”

~~~~

Sesungguhnya kunci kesuksesan adalah sabar. Semua orang mungkin akan setuju dengan hal ini. Kunci sukses adalah sabar. Betapa kita ternyata didahuli alam dalam kesabaran.  Alam berdiri di atas kesabaran, yakni “kebertahapan”. Matahari tak akan muncul secara tiba-tiba, menjadi kupu-kupu yang indah butuh tahapan panjang dalam mencapainya. Sel telur yang dibuahi perlu 9 bulan untuk menjadi manusia yang lahir ke dunia. Kita takkan menjadi manusia dewasa tanpa kesabaran dan perawatan dari ibu kita. Bahkan Allah SWT menciptakan langit dan bumi itu adalah dalam enam masa. Begitulah Allah SWT mengajarakan kita bahwa segala urusan haruslah tegak dalam kesabaran.

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)

Sebuah hadis yang luar biasa tentang pesona seorang Mukmin.  ketika ia mendapatkan kebaikan, kebahagian, rasa bahagia, kesenangan dan lain sebagainya, ia akan refleksikan dalam bentuk penysukuran terhadap Allah SWT. Karena ia tahu dan faham bahwa hal tersebut merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada dirinya. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya.

Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, bencana, rasa duka, sedih, kemalangan dan hal-hal negatif lainnya, ia akan bersabar. Karena ia meyakini bahwa hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang pasti memiliki rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.

Sabar bukan hanya sabar dalam menghadapi ujian. Ternyata kita dituntuk bersabar dalam segala hal. Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan segala perbuatan maksiat. Sabar berarti menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

“Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang diberi pahala tanpa dihitung (tidak terbatas).” (Q.S Az-zummar: 10)

Semoga kita semua adalah termasuk orang yang sabar dan saling nasehat menasehati dengan kesabaran...

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasehati dengan kebenaran dan saling menasehati dengan kesabaran” (Q.S Al-Ashr: 1-3)

[Kaca] Catatan Pak Dian

Senin, 18 Juli 2011

“Mbak!” seseorang menyentak. Aku dan temanku yang sedang menaiki motor pun segera menoleh ke belakang.

“Lain kali jangan rem mendadak dong!” katanya lagi dengan nada yang cukup tinggi. Kurasakan dengan jelas kemarahan yang muncul dalam dirinya. Wanita berjaket hitam tersebut menyorotkan mata tajam kearah kami. Slayer putih menutupi mulut dan hidungnya.

Lama kami tertegun dan kemudian aku pun tersadar bahwa baru saja aku menyuruh temanku menyetop motor karena tempat yang kami tuju terlewat.

“Mau saya tabrak ya Mbak?”

Jujur saja, ketika melihat wanita itu, yang tebersit di pikiranku bukan rasa bersalah atau mungkin rasa sakit hati akibat ucapannya yang begitu menusuk hati. Yang ku ingat pertama kali adalah sebuah bacaan yang pernah kubaca, yaitu  catatan FB yang ditulis oleh Pak Muhammad Dian. Wah, apa yang kualami, hampir mirip dengan cerita pak Dian.

Aku dan temanku akhirnya menundukkan kepala sambil memohon maaf. Tapi yang kami dapat bukan penerimaan maaf melainkan mementalkan apa yang baru saja kami ucapkan.

“Maaf-maaf!” katanya kemudian sinis. “Kalau nggak bisa bawa motor itu nggak usah pake motor!” katanya lagi. “Mau saya tabrak? Lain kali jangan rem mendadak!” wanita itu terus menerus meluapkan kekesalan cukup lama.

Pikiranku kembali melayang. Pikiranku menjamah pada catatan pak Dian yang berjudul “Pernahkah memakan telur dengan cangkangnya?” hingga akhirnya memoriku kupaksa mengingat apa pesan yang ada di dalamnya.

Dalam kehidupan terlalu sering kita terpaku pada PERISTIWA dan PROSES dibanding ISI yang terkandung di dalamnya.

Yupz, benar sekali. Bagian ini bagian penting. Tapi ada pesan terakhir lagi yang bisa kita terapkan langsung. Maka kupaksa lagi memori untuk mengingatnya.

selalu nikmati ISI dari kehidupan ini, abaikan segala hal yang membungkusnya. Hidup akan lebih efektif dan bahagia.

Maka, akhirnya aku pun mementalkan segala kata-kata menyakitkan dari wanita tersebut. mengambil langsung isi darinya. Baiklah, lain kali kami akan lebih hati-hati. Akan kami usahakan untuk tidak rem mendadak karena itu akan membahyakan nyawa kami. Walau yang ini sebenarnya bukanlah kehendak kami untuk menyetop motor secara mendadak.

Aku pun akhirnya menepuk pundak temanku yang memboncengku setelah wanita itu berlalu membawa kekesalannya, “Abaikan kekasarannya, kita perhatikan isinya!”

“Ya mbak? Kenapa?” katanya kemudian sebenarnya masih belum mengerti.

Aku diam, masih tertegun dengan barusan yang kualami juga merasa heran karena tak sedikit pun ada rasa sakit hati dalam hatiku. Kalau dipikir-pikir bungkusannya padahal teramat kasar. Malah temanku adayang bilang bahwa semua ini mirip parade sinetron.

Aku hanya terus teringat pada catatan Pak Dian. Sebelumnya aku sudah pernah menasehati seseorang dengan catatan tersebut saat dia dihina oleh seorang temannya. Betapa cepatnya kemudian akulah yang mengalaminya. Ini seperti sebuah ujian atas nasehatku pada temanku. Apakah aku juga bisa menerapkan seperti pesan yang terkandung pada catatan Pak Dian yang kubaca. Tidak lucu kalau hanya bisa menasehati tanpa bisa melakukannya juga.

Referensi link:

[Kaca] DISIPLIN

Rabu, 13 Juli 2011

1 hari 1 tulisan. Inilah ide yang saya tawarkan lalu disetujui beberapa hari yang lalu setelah dikompor-kompori dulu oleh pak tukang kompor menulis, Pak Heri Cahyo, TKM. Tidak lucu kalau saya yang menawarkan dan kemudian saya yang melanggarnya. Jadi intinya, 1 hari harus ada 1 tulisan yang saya buat. Hitung-hitung untuk latihan menulis. Kali aja tambah lancar menulis di keyboard dan kemudian berhasil mengetik tanpa melihat keyboard. Tak tik tuk, tak tik tuk tanpa liat keyboard,, dan tereng,, jadilah NOVEL. (maunya).

Sebenarnya saya tak punya ide menulis hari ini. Tapi tiba-tiba di ingatkan oleh kata-kata “TULIS APA YANG ADA DIPIKIRAN, BUKAN MEMIKIRKAN APA YANG DITULISKAN.”

Tapi apa ya? Apa ya yang sedang saya pikirkan? Wah jangan-jangan saya lagi nggak mikir nih. Oke, oke. Kita flashback dulu ke masa silam alias kejadian tadi pagi. Sebentar, saya ingat-ingat dulu tadi pagi saya ngapain ya?

Oh iya, tadi pagi saya ada agenda menghadiri upgradingnnya salah satu kepanitiaan yang saya ikuti. Apa yang terjadi di pagi tadi membuat saya kembali memutar memori ke tulisan saya beberapa waktu yang lalu yang berjudul [kaca] SI TEPAT WAKTU. Karena di tulisan itu saya berikrar untuk tidak terlambat, maka sayapun mengusahakan untuk tepat waktu. Sayangnya waktu hendak berangkat saya belum sarapan dan ada teman menawarkan untuk membelikan sarapan. Tentu dengan senang hati saya terima dan waktu sudah menunjukkan puku 07.10.

Makanan pun sudah datang. Saya mulai sarapan dengan estimasi waktu sekitar 10 menit. Namun sayang estimasi saya kurang tepat ditambah dengan embel-embel yang lainnya. Alhasil saya pergi ketika jam handphone saya menunjukkan pukul 07.35. Ah, hari ini saya terlambat. Sayapun berpikir agar lain kali lebih mengestimasikan waktu dengan lebih cermat. Jangan menunda-nunda, itu intinya. Tapi ini masih belum sangat terlambat dan masuk dalam angka tolerir keterlambatan. Maka sayapun melangkahkan kaki dengan mantap.

Saya masih melangkahkan kaki saya. Sampai saat kaki saya entah sudah beberapa sekian langkah, saya teringat sesuatu. Ya tuhan, saya lupa membawa almamater. Ah, alamat kembali ke kosan. Estimasi waktu pun semakin tak tepat. Hati ini kemudian bergemuruh merasa menyesal. Padahal sebenarnya saya bisa lebih tepat waktu lagi. Tapi almamater harus dibawa. Akhirnya saya pun kembali ke kos untuk mengambil almamter. Dan tebak, jam berapakah saya sampai? Jam tujuh lebih lima puluhan menitan.

            Sudah berikrar untuk tidak berpikir “Ah, paling acaranya molor.” Tapi sejujurnya hari ini saya sedikit kecewa. Undangan diberikan pukul 08.30 dan saya sudah merasa  cemas dan sesal kaarena hadir tidak pada waktunya. Namun, apa yang terjadi? Pikiran “Ah, paling acaranya molor” mulai goyah. Hampir rapuh dan rapuh. Hampir puhan dan punah. Acara yang di agendakan jam 07.30, ternyata dimulai jam 08.45. Apa apan ini? telat sekitar 85 menit. Saya tidak terima!

Eits, eits, tiba-tiba ada pikiran lain nongol secara tiba-tiba. Bukankah kau bilang ingin menghilangkan pikiran “Ah, paling acaranya molor?”. Berarti kamu mencoba untuk menghilangkan pikiran tersebut. Namun tetap sadarlah bahwa hilangnya pikiran itu bukan berarti kenyataannya seperti itu. Kau hanya mencoba menjadi manusia yang baik bukan?  Menjadi manusia yang disiplin, manusia yang lapang dan manusia yang setia. Itu tujuanmu. Jika kau kemudian marah karena acaranya tak mengikuti pikiranmu, berarti tujuanmu untuk menjadi manusia disiplin, lapang nan setia tidaklah terwujud. Lagi pula hari ini kau masih masuk kategori terlambat. Ingatlah itu!

Sayapun kembali tersentak dengan pikiran sendiri. , untuk pertemuan hari ini tadi, saya gagal menerapkan ikrar saya pada catatan saya sebelumnya, [Kaca] SI TEPAT WAKTU. Tapi tulisan ini adalah salah satu cara saya untuk terus mengingatkan diri, terus berusaha agar menjadi orang yang disiplin, lapang dan setia tak peduli bagaimana orang lain berlaku.

Sebenarnya saya hanya mencoba untuk disiplin. Disiplin menulis sesuai tawaran saya kepada teman-teman saya di FLP, I hari 1 tulisan, maka saya tulislah tulisan ini. Selanjutnya adalah disiplin untuk berusaha datang tepat waktu, menghilangkan pikiran “ah, acaranya paling molor” sesuai dengan catatan saya sebelumnya. Jadi intinya, DISIPLINLAH=D.

Oke, saya rasa cukup sekian karena waktu hampir pukul dua belas malam. Gara-gara minum the racik, saya jadi tidak mengantuk. Ternyata kafein teh nggak kalah sama kopi.

[Kaca] SI TEPAT WAKTU

Minggu, 10 Juli 2011

“Jadi, kapan kita akan rapat lagi?”
“Besok jam 9 ya!”
“Deal!”
“Oke”
“Tapi harus tepat! Jangan seperti hari ini! kasihan yang nunggu lama!”
Sebuah percakapan yang sudah sangat biasa. Harus tepat ya! Kata-kata inipun kerap kali diucapkan saat orang-orang merencanakan janji bertemu kembali, berharap agar besok semua datang tepat pada waktunya. Namun apa yang terjadi? Kadang yang berucap bahkan tidak mengikuti apa yang dikata. Hasilnya, perjanjian yang awalnya dimulai jam 9, menjadi jam 10 bahkan mungkin jam 12 setelah adzan dzuhur berkumandang.
Sebenarnya aku pun bukan orang yang bisa dicap sebagai orang yang on time (bahasa kerennyalah =D). ketika janji itu misalnya jam 9, aku kerapkali terlambat sekitar 15 bahkan 30 menit. Karena aku selalu berpikir “ah, paling juga molor” dengan tanpa sadar bahwa banyak orang yang berpikiran sama dan memutuskan hal yang sama, memolorkan waktu. Walau demikian, ilmu statistika tetaplah berlaku dalam sebaran normal. Pencilan itu pasti ada. Lantas, siapakah pencilan disini? Pencilan disini adalah orang yang tidak berpikir seperti yang di atas. Yaitu orang yang selalu berpikir “sudah disepakati pertemuan jam 9, maka aku harus datang tepat pada waktunya!” sehingga dia pun adalah orang yang datang pertama kali dalam kesepakatan itu.

Tanamlah

Minggu, 26 Juni 2011

Aku tersentak ketika membuka salah satu blog temanku. Di dalamnya, dia menceritakan peristiwa paginya yang membuatnya seketika tersadarkan akan sesuatu karena sebuah pesan pagi. Pesan itu berbunyi seperti ini:

Sebuah cerita tentang seseorang yang baru bangun tidur di pagi hari dan merenungkan tentang kunci sukses dalam hidup ini ..
jendela kamar tidur berkata " bangun, lihatlah dunia "
langit2 kamar berpesan "Bercitacitalah setinggi mungkin"
jam dinding berdetak " Setiap menit itu berharga"
cermin pun menimpali " berkacalah, sebelum bertindak"
kalender meja lirih berbisik " Jgn tunda samapi besok apa yang bisa kamu kerjakan hari ini"
pintu berteriak " ayo, dorong yang keras & beranjaklah, mulailah hari !"
tp... yang wajib diperhatikan adalah pesan dari lantai kamarmu " wudhulah, basuhkan air diwajahmu , BERLUTUTLAH & BERDOA ... 

Sebuah pesan yang ternyata cukup membuatnya tersadar akan sesuatu. Sebuah pesan yang ternyata sangat melekat di hatinya sampai membuatnya tergerak untuk memposting peristiwanya.
Lantas, sebenarnya apa yang membuatku tersentak dan sesaat terbengong melihat blognya? Bukan

Cukup Kujaga Kau dengan Doa

Sabtu, 07 Mei 2011

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)

Doa adalah ibadah. 
Doa adalah senjata. 
Doa adalah benteng. 
Doa adalah obat. 
Doa adalah pintu segala kebaikan.

“Mairaa,,” panggilku dengan menadayu khas anak kecil sambil celingak celinguk memperhatikan rumah tetanggaku tersebut. Apakah Maira akan segera keluar atau tidak.

“Mairaa..” panggilku sekali lagi dengan suara cempreng khas anak kecil. Tapi sayang tak kulihat sedikitpun tanda-tanda kemunculannya. Yang ada hanya sahutan ibunya dari dalam rumah.

“Mairanya lagi tidur siang Da, mainnya besok-besok saja lagi ya!”

Kudengar samar-samar di dalam rumah itu suara Maira yang merengek ingin keluar menemuiku bermain. Aku yang saat itu masi berumur 10 tahun hanya bisa kembali ke rumahku dengan hati kecewa. Padahal hari itu kami sama sekali belum bermain apapun, tapi Ibu Maira sudah melarangnya untuk bermain. Akhirnya akupun kembali ke rumah, menjadikan kucing-kucingku sasaran untuk bermain.

Ada satu hal yang baru kusadari ketika aku mengingat masa kecilku bahwa aku jarang sekali diatur oleh kedua orang tuaku. Tidak seperti teman-temanku yang kadang kudapati menekuk wajah kecewa karena tidak boleh kesana kemari atau mungkin merengek tidak mau tidur siang. Seperti halnya Maira. Aku?

Sebuah Nasehat untuk Nasehat

Selasa, 08 Februari 2011

“Wudhu seperti itu tuh salah!” seseorang berkopiah dengan baju koko putih bersih tiba-tiba bercelutuk ketika melihat seorang pria sedang berwudhu.

Seketika juga sang pria tersentak dan terhenti dari wudhunya. Kepada siapa lagi pria berbaju koko ini berbicara kalau tidak kepadanya karena dialah satu-satunya yang berwudhu saat itu. Sedangkan yang lainnya hanyalah bocah-bocah yang ramai bermain dalam keceriaan. Saat itu juga tiba-tiba keramaian bocah terhenti. Seluruh mata kini reflek menatap pria dengan parfum yang tercium harum tersebut dan kemudian berbalik menatap pria yang sedang berwudhu.

“Terus bagaimana yang benar?” sang priapun akhirnya balik bertanya dengan wajah sedikit merah padam. Suaranya serak seperti menahan amarah. Rupanya sang pria sedikit jengkel juga walaupun dia menyadari bahwa dirinya salah. Tepatnya sang pria kesal karena malu. Disana banyak orang dan banyak anak kecil juga salah satu putranya yang kini menyaksikan ayahnya yang tak becus dalam berwudhu.

Dalam hati kini pria membatin “Mentang-mentang banyak ilmunya!” alih-alih merasa berterima kasih karena tengah hendak dibetulkan wudhunya, sang pria malah beralih meredam sakit hati dalam hati karena telah ditergur terang-terangan di depan orang banyak. Sang pria hanyalah manusia biasa yang pastinya punya perasaan.

~~~~~~~~~~~

Sedikit merenung tadi malam setelah membaca sebuah buku pada bab Nasihat dan akhirnya membuat saya tergerak menuliskan ini. Bukan karena apa-apa namun lebih karena saya amat tertohok dengan setiap baris kata-kata di dalamnya. Karena saya baru

Mengenai Saya

Foto saya
Apalah arti sebuah nama, tapi ternyata nama sangatlah berarti. siapa nama anda dan bisa jadi kehidupan anda adalah seperti nama anda,,,

Entri Populer

Followers

Daftar Blog Saya