ON TWENTY

Rabu, 21 September 2011

ON TWENTY

Pernahkah kau memikirkan angka 20? Sebuah angka yang ternyata cukup besar jika kembali dipikirkan dan dibandingkan. 20, sebuah angka cantik yang jelas lebih besar dari angka 17. Pernahkah kau memandanginya dan memikirkannya dengan seksama? Memikirkan apapun yang mungkin berada dibaliknya. Entah mengapa pikiranku penuh dengannya. Malam ini rasanya hatiku berdesir jika mengingatnya, karena sebentar lagi angka itu akan menghiasi diriku. Yah, tepat jam 12 nanti tiba saatnya hari menginjakkan diri pada tanggal 22 september dan saat itulah detik-detik umurku sudah dapat dibilang berkepala dua.

So, dalam detik-detik menjelang  dinobatkannya diriku sebagai gadis berusia 20 tahun, aku ingin mengungkapkan segala bentuk terima kasihku kepada orang-orang yang sudah menghiasi hidupku dalam 20 tahun ini. Hmm.. sepertinya saat tulisan ini di publish, angka 20 itu sudah bertengger di tubuhku.

Oke, mungkin catatan kali ini juga akan terasa lebih panjang dari biasanya dan harusnya malah lebih panjang, sepanjang perjalanan 20 tahun. Itu artinya, harusnya catatan ini baru selesai dibaca setelah 20 tahun lamanya=D.

Keburu kiamat kali, masa hidup 20 tahun dihabiskan hanya untuk baca catatan ini?

=)

Bismillahirrahmanirrahim….
Dengan nama Allah dan semoga kita tetap berpegang di jalanNya dalam petunjuk Al-quran dan Hadist Rasulullah SAW. Semoga sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada Baginda Rasulullah, panutan kita dengan segala keindahan akhlaknya.

Ya Allah, izinkanlah aku menuliskan beberapa bait kata, sebagai ungkapan segala rasa atas jasa mereka yang telah memberikan hidupku penuh warna. Ya Allah, jagalah mereka agar senantiasa teguh di jalanMu.

Kepada ibu dan ayah yang begitu kucintai dan kusayangi…

Walau kalian tak dapat membaca catatan ini lewat kaca monitor dan selancaran dunia maya, cukuplah mereka yang membacanya dan terutama Allah yang tak pernah tidur dan Maha Tahu sebagai saksi atas rasa terima kasihku kepada kalian. Biarlah mereka menjadi saksi atas rasa cinta dan sayangku yang takkan pernah putus kepada kalian. Dan biarkanlah tangan ini menari, mengetikkan setiap kata yang mewakili derasnya hati untuk selalu mengingat kasih sayang kalian.

Ibu, sebenarnya jari ini begitu tak kuasa menuliskannya. Ucapan kata terima kasih tentu tak akan dapat menggantikan segala bentuk pengorbananmu saat detik-detik memunculkanku ke dunia, segala bentuk kasih sayangmu dalam mengantarkanku hingga dewasa, segala penjagaanmu ketika aku sakit, segala perhatianmu dalam mengurus kebutuhanku, hingga segala kerasnya kau memikirkan kebertahananku dalam hidup. Walau hanya dalam kurun waktu 19 tahun  mengarungi dunia bersamamu, bagiku kau adalah wanita terhebat, wanita paling tegar dan wanita yang paling kuat yang pernah ada dalam hidupku.

Ayah, seperti halnya kepada ibu, jari ini pun juga tak sanggup menuliskannya. Ucapan kata terima kasih memang belum cukup untuk menggantikan segala pengorbananmu, segala bimbinganmu, cinta dan kasih sayangmu. Tapi izinkanlah aku untuk menuliskan beribu-ribu terima kasih atas pelajaran hidup dari perjalananmu, beribu-ribu terima kasih atas kesabaranmu, penyisihan harta untuk kebertahanan hidupku hingga sampai sekarang pun, melalui sebuah anggaran dana pensiunan dari jabatanmu, kau yang terbaring di tanah membiayai kebutuhan hidupku. Dan walau dengan ayah hanya mengarungi hidup selama 16 tahun, bagiku kau adalah lelaki terhebat yang pernah ada dalam hidupku. Bagiku, perjalanan hidupmu adalah sebuah perjalanan penuh inspiratif.

Ibu, ayah, sekarang anakmu yang bernama Maulida Azizah ini sudah mendapatkan predikat usia 20 tahun. Ternyata, dia sudah cukup lama mengarungi dunia. Terima kasih atas segalanya. Walaupun anakmu ini kadang masih sering sedih merindukanmu, semoga dia bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur atas segala nikmat Tuhannya. Walaupun dia masih sering membayangkan betapa menyenangkannya jika bisa berbagi cerita dengan kalian, semoga cerita hidupnya adalah cerita yang dapat menginspirasi banyak orang. Walaupun anakmu ini masih sering membayangkan dapat menerbitkan buku lalu memamerkannya kepada kalian seraya berkata “Ayah, Ibu, hobby nulisku dulu sekarang berbuah buku”, semoga suatu saat dia memang bisa menerbitkan buku. Walaupun anakmu ini masih sering membayangkan betapa menyenangkannya jika photo wisudanya nanti akan di apit diri kalian, semoga dia akan berhasil menjadi sarjana science yang dapat bermanfaat bagi sekitarnya. Walaupun anakmu ini kadang membayangkan betapa membahagiakannya jika di photo pernikahannya nanti akan ada sosok kalian berdua, semoga suatu saat nanti dia akan menjadi istri sholehah bagi suaminya. Dan walaupun-walaupun lainnya yang sering membuktikan bahwa dia masih terbayang-bayang sosok kalian dan terlalu sering merindukan kalian, semoga dia dapat menjadi gadis yang pandai menjaga diri dari hiruk pikuk dunia dan menjadikan kematian sebagai peringatan.

Ibu, ayah, terima kasih atas segalanya. Bahkan ketika kalian sudah menemui takdir untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa, kalian masih tetap mengajarkanku banyak hal. Jika kemudian aku kembali datang dengan beberapa kata, kadangkala aku selalu memikirkan kematian kalian sebagai pelajaran tanpa kamus, yang mengajarkan arti hidup dan membuktikan bahwa hidup adalah untuk wujudkan rasa syukur dan sabar. Walau rasa “sendiri” itu kadang-kadang muncul dan menjadikan daerah melankoli terlalu gampang menyelimuti, atau kadang kala datang rasa iri melihat kelengkapan angggota keluarga orang lain, semoga rasa-rasa itu justru melatih dirinya untuk menjadi sosok dewasa dan mandiri, tak gampang bergantung pada orang lain walaupun masih sering sekali mengantungi kakak-kakaknya.

Ibu, ayah tak terasa anakmu sekarang sudah 20 tahun. Usia yang kata orang adalah ukuran usia matang bagi seseorang. Ukuran usia yang harusnya dapat menjadikannya menjadi sosok dewasa dan dapat meletakkan segala sikapnya pada tempatnya. Semoga anakmu ini dapat menjalani usia barunya dengan lebih baik lagi dengan memanfaatkan sisa umurnya sebaik mungkin.

Dan yang terakhir, sesungguhnya ini bukan rasa terima kasihku yang terakhir karena masih banyak lagi hal-hal yang menuntutku untuk berterima kasih kepada kalian. Untuk kali ini, aku ingin berterima kasih kepada kalian yang telah melahirkan kakak-kakak terbaik untukku. Kakak Imuth dan kakak Fizah, yang kini masih telaten memikirkanku. Kadangkala rasanya diri ini merasa berdosa pada mereka. Di usia 20 tahun ini, harusnya diriku sudah tak bergantung kepada mereka. Usia 20 tahun, bukankah itu bukan usia anak-anak? Tapi sayang, diri ini masih tak mampu.

Untuk kakak-kakakku yang begitu kusayangi, terima kasih atas segala perhatian dan pengorbanannya. Terima kasih atas segala hari-hari penuh warna sebagai keluarga. Banyak cerita memang dan terima kasih atas segala cerita yang dapat dikenang. Terima kasih atas segala bimbingannya, nasehatnya, cerita-cerita dan kebersamaan yang masih dijaga. Atau kadang melabuh bersama, mengenang masa lalu, kembali tertawa atas cerita lucu yang lama, atau kadang bersama mengagumi kembali  sosok-sosok hebat ibu dan ayah kita, lalu kemudian diam-diam rindu dan meneteskan air mata. Terima kasih atas segala pemberiannya baik materi maupun non materi. Sungguh, adikmu ini tak dapat menghitung berapa banyak pemberian yang sudah kalian berikan. semoga suatu saat, dia dapat membalas segala jasa yang telah kalian berikan. Doa selalu kuhanturkan untuk keluarga kecil kalian, semoga keluarga kakak-kakakku semua adalah sekuarga sakinah, mawaddah warohmah.

Kakakku tercinta, sekarang adikmu sudah berusia 20 tahun. Walaupun dia masih sering kekanak-kanakan, semoga di usianya sekarang ini dia bisa lebih dewasa lagi, bercermin dari sosok-sosok kalian yang sudah mengarungi dunia lebih dulu darinya.

Ibu, Ayah, Kak Imut, Kak Fizah, apakah kalian tahu betapa aku sangat bersyukur kepada Allah atas segala warna yang diberikannya, atas segala sosok-sosok kalian yang dihadirkannya dalam hidupku. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada kita semua. Amiin ya rabbal alamiin..=)

Sudah kubilang, tulisan kali ini adalah panjang. Rasa terima kasihku belum berhenti sampai disini. Masih banyak nama yang belum keluar lewat tarian keyboard netbookku ini.

Kembali aku ingin mengungkapkan rasa terima kasihku kepada mereke-mereka yang menguaskan banyak warna kepada hidupku.

Pertama, terima kasih kepada masa TKku walau aku banyak lupa nama-nama mereka yang terlibat di dalamnya. Terima kasih untuk satu-satunya tetangga rumahku. Kepada mereka yang mengisi masa SDku, Humairoh, Fatma, beserta the krucils lainnya seperti Mariati, Faris, Novia (ah, bagaimana ya mereka sekarang? Tetangga-tetangga yang menjadi teman mainku setiap hari).

Terima kasih juga kepada teman masa SDku Fahriatul Yunida yang paling banyak menoreh warna baik merah, kuning hijau maupun kelabu saat SD dan baru saja aku tahu ternyata kau sedang dirundung duka. Semoga engkau tabah dalam menghadapinya dan aku tahu kau pasti lebih tegar dariku.

Hmm.. ini masih berkutat dengan teman SDku, terima kasih untuk temanku Ina, Lisda, Mawaddah, Jenifer, Yeni. Aku juga masih ingat masa SDku dengan Rita, Rahman, Budi, dan siapa ya itu namanya? Waaah.. kenapa aku jadi lupa >,<.. satu lagi seorang gadis cewek yang sangat berkesan namun aku lupa namanya. Yang jelas, terima kasih atas masa SDnya. Walau beberapa aku tak tahu dimana mereka berada.

Masih berkutat masa SD, masih ada satu nama yang bagiku cukup sakral. Karena dari dialah aku pertama kali mengenal yang namanya majalah bobo. Sebuah majalah yang ternyata cukup membuatku gila menulis sebuah cerita pendek atau berani sekali bermimpi jadi penulis skenario dan sutradara. Terima kasih untuk Roni, entah dimana kau sekarang berada dan bagaimana wujudmu. Dalam hal tulis menulis aku juga cukup berterima kasih kepada teman SDku Jennifer. Masih ingat sekali saat-saat kami bertukaran buku, membaca karya masing-masing. Padahal kalau dibaca kembali, karya anak SD itu benar-benar datar =.=”

Terima kasih juga untuk guru-guru ngajiku saat SD, Ibu Ida, kemudian wali kelasku Bu sapa ya? Astaghfirullah… tega nian daku lupa>,<,, pokoknya ibu itulah.. ibu yang cukup berkesan dan all of guru-guru bersama teman-teman SDN Pasar baru 2 Pagatan.

Kini menjajaki masa-masa SMP. Terima kasih untuk sahabatku tercinta yang masih setia menjadi makhluk yang paling kucari saat di Banjarmasin. Ayoh dan Nida, Love you so much. Kalian cukup banyak mengisi hari-hariku, dan memberikan warna yang beragam. Juga kepada Intan, Restu, Laily, Hana, Ulfah, Sabrina, Eka. Oke, satu masa yang paling bersinar saat kita semua berkecimpung di dunia MC FM, bertemu dengan Kaori, Meirin, dkk, menorehkan banyak cerita yang bahkan ada yang berujung panjang.

 Terima kasih juga untuk para guru, Pak Isro beserta istrinya Kak Melisa, Pak Taufik yang cukup membuatku dapat mencicipi indahnya menjadi orang “gila” di panggung teater walau sekarang aku sudah lupa cara-cara berakting. Bu Sholatiah dan pak Jayadi, betapa saat masa di ajar dengan kalianlah aku merasa matematika itu mudah. Tapi mengapa sekarang terasa susah@.@? Terima kasih dan beribu terima kasih untuk teman-teman dan guru-guru SMP Islam Sabilal Muhtadin yang sudah mewarnai masa putih biruku.

Masih masa SMP, terima kasih untuk sepupuku Aulia dan Aman juga paman yang telah memberikan tumpangan rumahnya selama diriku menempuh studi masa SMP. Juga kepada sepupuku Lisna, Faisal, Iyus. Ada hal yang tak pernah kulupakan saat berada di rumah kalian sewaktu kelas 1 SMP, dan menjadi awal lebih banyaknya lagi warna dahsyat dalam hidupku.

Terima kasih juga kepada mereka-mereka yang telah mengisi masa putih abu-abuku terutama pada masa-masa di asrama. Terima kasih kepada temanku Irva dan Ila atas masa-masa gila saat di asrama. Kepada Fusha, Mbak Endah dan juga Rahma. Hei, sadarkah kalian telah sedikit menganggu keluguan dan kepolosanku=D? kepada Mbak Faiz yang masih sedikit mengingatkanku atas menyenangkannya main drama. Terima kasih kepada Lala, Gena, Satiti, Memey, Estu dan all of anak-anak Damaskus.

Mengingat asrama, sebenarnya ini adalah masa-masa yang memang bisa dibilang cukup rumit warnanya. Segala kearifan dan bahkan kekonyolan banyak kudapat disana. Asrama MAN3 Malang, terima kasih banyak atas naungannya selama tiga tahun. Ada ustadz yang benar-benar berkesan selama disana yaitu Ustadz Taufik dan Ustadz Gunawan, semoga Allah melimpahkan berkah dan kasih sayang kepada beliau atas ilmu-ilmu yang diturunkannya. Menyesal rasanya dulu tak memanfaatkan masa di asrama dengan baik untuk menyerap habis ilmu-ilmu mereka. Terima kasih Ustadz atas petuah-petuahnya selama ini. Terima kasih juga kepada pengasuh asrama damaskus yang sudah sangat sering saya repotkan. Mom Nita, ustadzah Muhrofin dan Ustadzah Vita.

Terima kasih untuk teman-teman masa SMAku, Tsabita Sabrina, teman yang bagiku cukup unik. Terima kasih kepada Eva, Nufa, Hilda, Opha and the genknya seperti Marlina, Sofa, Rilla dan Dina, teman-teman IPA2.

Ucapan terima kasih juga tak lepas untuk seluruh guru-guru di MAN3 Malang. Terima kasih kepada Pak Insan yang dulu sabar sekali mengajarkan kami mata kuliah Fisika, mengantarkan kami agar dapat lulus UN. Terima kasih kepada Pak Sukri yang cukup menginspirasi saya dalam pelajaran biologi, juga Bu Yayuk, Bu Farida yang begitu pandai dalam memahamkan matematika, Pak Jito yang cukup membuat suasana pelajaran kimia terasa menyenangkan, Pak Pur, Bu Lilis yang membuat saya sering terkagum-kagum padanya dan seluruh guru-guru MAN 3 Malang yang tidak bisa disebutkan satu-satu.

Phew, mengingat masa SMA memang tak akan ada habisnya. Satu kata, terima kasih kepada seluruh teman-teman MAN3Malang dan juga asrama yang sudah memberikan banyak warna bagi hidupku.

Dan sekarang, menginjak masa kuliah. Masa yang ternyata memberikan banyak rasa nano-nano di dalamnya. Untuk mereka-mereka yang ada disini, aku pun ingin mengungkapkan terima kasih banyak.

Oke, mungkin catatan kali ini akan kututup. Lho? Kok ditutup? Bukankah mereka yang disini belum disebutkan satu-satu? Catatan ini juga masih kurang panjang dari yang dikira. Bukankah aku bilang kali ini catatannya akan lebih panjang dari biasanya? Memang, memang akan panjang. Yah, itu jika mereka-mereka yang mengisi hari-hariku saat aku menjadi mahasiswa kumasukkan juga satu persatu. Kalian tahukan bahwa mereka-mereka yang masih mengisi hari-harimu adalah yang akan paling banyak teringat. Saking banyaknya mereka yang kuingat berserta jasa-jasanya, rasanya ingin sekali memberikan mereka semua ruang khusus. Dimana? Dalam doa-doa panjang agar hubunganku dengan mereka-mereka menjadi lebih baik lagi dalam usia 20 tahunku.

Ribuan terima kasih sebenarnya sudah kupersiapkan. Tapi, biarlah mereka, teman-teman yang masih akan mengisi hariku sampai kepala dua ini terlewati tersebut kusimpan dalam doa-doa. Semoga ke depannya, kami semua dapat saling mengisi hari dengan lebih baik lagi. Semoga Allah senantiasa mengikat hati kami untuk bertaut dijalanNya, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Untuk mereka-mereka yang merasa masih akan saling mengisi bersamaku dalam usia 20 tahunku ke depan, terima kasih banyak untuk warna kemarin dan semoga aku bisa memberikan warna yang lebih baik lagi untuk kalian semua=)

[Kaca] Berbagi

Jumat, 05 Agustus 2011

Gadis kecil itu tiba-tiba ingin sekali membeli es krim. Maka, pergilah dia kepada ibunya dan mencoba meminta uang untuk membeli es krim. Ibu pun memberinya uang yang jumlahnya bagi si gadis kecil terlampau besar. Matanya berbinar melihat uang yang banyak tersebut. Dia pun segera pergi ke sebuah toko dan membeli sebuah es krim. Dia memilih es krim yang menurutnya tidak murah dan juga tidak mahal.

Biasanya kalau ibu memberinya uang, maka sebanyak apapun sudah menjadi miliknya. Tapi entah mengapa gadis kecil ini berinisiatif untuk mengembalikan sisa uangnya karena menurutnya uang yang diberi ibunya terlampau lebih banyak. Dan ketika sang gadis mengembalikan uang, ibu malah menegurnya karena sesuatu.

“Belinya cuman satu?”

Si gadis kecil mengangguk.

“Kok cuman satu? Yang lain nggak dibelikan?”

Si gadis melirik kesepupu-sepupunya yang saat itu lagi berada di rumahnya. Tak sedikit pun terpikir olehnya untuk membelikan sepupunya es krim. Dia merasa uang yang dia pegang adalah milik ibunya. Kalau sepupunya mau es krim, sepupunya harus minta uang juga pada ibunya sendiri.

“Kalau punya makanan itu harus berbagi! Ayo belikan juga yang lainnya es krim!” kata ibu lagi seraya memberikan uang yang sudah dikembalikan si gadis kecil sebelumnya.

Setelah peristiwa tersebut, sang gadis kecil pun mendapat pelajaran tentang pentingnya berbagi kepada sesama. Maka tahulah dia sekarang arti kedermawanan. Dari ibunyalah dia belajar harusnya berbagi.
Pernah suatu saat ibunya memasak dan masakannya begitu wangi. Sang gadis ikut memperhatikan masakan ibunya di kala siang tersebut. Ibunya pun mengatakan sesuatu padanya.

“Kalau masakan kita wangi dan tercium tetangga, kita harus membagi kepada mereka!”

Si gadis mencerna kata-kata ibunya tersebut dalam hati sampai dia dewasa dan menemukan sebuah hadis. Ternyata apa yang disampaikan ibunya waktu itu adalah tuntunan Rasulullah SAW yang harusnya kita ikuti.

Kami bertanya kepada Rasulullah,”Wahai Rasulullah, apa hak tetangga itu? Rasulullah saw menjawab, “Jika ia berhutang kepadamu, maka berilah dirinya hutang, jika ia meminta bantuan, bantulah ia, jika ia membutuhkan sesuatu, berilah ia, jika ia sakit maka kunjungilah, jika ia mati maka selenggarakanlah jenazahnya; jika ia mendapatkan kebaikan, bergembiralah dan ucapkanlah suka cita kepadanya, jika ia ditimpa musibah, turutlah sedih dan berduka. Janganlah engkau menyakitinya dengan api periuk belangamu (maksudnya jika anda memasak jangan sampai baunya tercium tetangga), kecuali engkau memberi sebagian kepadanya. Janganlah, engkau mempertinggi bangunan rumahmu, agar bisa melebihi rumahnya, dan menghalangi masuknya angin, kecuali atas izin darinya, jika engkau membeli buah-buahan, maka berikan sebagian buah itu kepadanya, Jika engkau tidak mau memberinya, maka masukkan ia ke dalam rumahnya dengan sembunyi-sembunyi, dan janganlah anakmu keluar dengan membawa satupun buah itu, sehingga anaknya menginginkannya.Apakah kalian memahami apa yang aku katakan kepada kaliuan, bahwa hak tetangga tidak akan pernah ditunaikan kecuali oleh sedikit orang yang dikasihi Allah? [Hadits hasan, tersebut dalam Tafsir Qurthubiy]

[Kaca] Letakkan Pada Tempatnya

Gadis kecil bermata coklat itu pulang dengan hati riang. Dia baru saja selesai melaksanakan ibadah sholat tarawih di sebuah Mesjid dekat rumahnya. Di rumah, dia menemukan ibunya yang masih sibuk di dapur, membereskan piring-piring yang belum dicuci sehabis berbuka.

Sang anak menatap ibunya berbinar, dia ingin mengabarkan sesuatu yang menurutnya adalah hal yang membanggakan.

“Bu, tadi waktu ceramah aku membaca Al-quran. Hari ini bacaan Al-quranku bertambah Bu!” katanya sambil menatap wajah ibunya dengan wajah riang berharap mendapat pujian yang pantas.

Namun, bukan pujian yang diapatkannya melainkan sebuah teguran.

“Lho? Kok membaca Al-qurannya waktu ceramah?” sang ibu menatapnya lembut. “Kalo ada yang ceramah harus didengarkan! Nggak boleh itu membaca Al-quran waktu ada yang ceramah!”

Sang anak terdiam. Perbuatan yang dikiranya membanggakan ternyata sebenarnya salah dimata ibunya. Karena gadis itu cenderung malas mendengarkan ceramah, dia pun ingin menggunakan waktu tersebut untuk menambah bacaan Al-qurannya. Gadis kecil tersebut sebenarnya sedih, namun setelahnya dia pun selalu menahan diri ketika ada ceramah berlangsung untuk membaca Al-quran.  Jangan membaca Al-quran waktu ada yang ceramah, itulah mind setnya saat itu. membaca Al-quran adalah ibadah, namun tak seharusnya dilaksanakan saat ada yang ceramah.

Dan saat dewasa, ketika sang gadis mengingat kembali peristiwa tersebut, 1 pelajaran yang didapatkannya. Sebenarnya yang disampaikan ibunya tersebut  adalah adab dalam mendengarkan. Begitu banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk menambah bacaan Al-quran kita. Tapi kenapa harus saat ceramah berlangsung? Saat seseorang memberikan kita sebuah ilmu, sebuah nasihat yang seharusnya kita tanamkan dalam hati dan amalkan dalam perbuatan.

Maka, tepatlah sang gadis kemudian berpikir "Letakkanlah sesuatu itu pada tempatnya".  Kadang kala memang kita melakukan sesuatu tidak pada tempatnya. Yang dilakukan adalah hal yang dinilai baik, namun sayangnya waktunya tidak pas.

[Kaca] Tentang Sabar

Kamis, 04 Agustus 2011

Seorang gadis datang kepada temannya dan mengeluh panjang lebar.
“Aku sedang punya masalah! Ini benar-benar masalah yang besar! Aku butuh solusi yang benar-benar konkrit!!!”
“Ya, aku tahu! Sabarlah!” temannya menjawab.
“Sekarang aku tak butuh sabar! Aku butuh solusi yang kongkrit!”
Temannnya terdiam. Wajahnya mengkerut. Hampir saja amarahnya mau keluar, tapi jika amarah itu keluar, dia tidak akan menjadi orang yang sabar dalam menghadapi orang yang tak sabar. Dia pun menghembuskan napasnya berat.
“Sesungguhnya aku menjadi teramat sedih. Apakah sabar hanya sebuah teori?”
Sang gadis terdiam. Lama gadis itu menunduk. Tiba-tiba bahunya terguncang dan ketika gadis tersebut mengangkat wajahnya, yang terlihat adalah merahnya mata dan hidung.
“Aku sudah tidak tahan. Aku tak kuat! Aku benar-benar benci dengan kondisi ini!”

~~~~

Sesungguhnya kunci kesuksesan adalah sabar. Semua orang mungkin akan setuju dengan hal ini. Kunci sukses adalah sabar. Betapa kita ternyata didahuli alam dalam kesabaran.  Alam berdiri di atas kesabaran, yakni “kebertahapan”. Matahari tak akan muncul secara tiba-tiba, menjadi kupu-kupu yang indah butuh tahapan panjang dalam mencapainya. Sel telur yang dibuahi perlu 9 bulan untuk menjadi manusia yang lahir ke dunia. Kita takkan menjadi manusia dewasa tanpa kesabaran dan perawatan dari ibu kita. Bahkan Allah SWT menciptakan langit dan bumi itu adalah dalam enam masa. Begitulah Allah SWT mengajarakan kita bahwa segala urusan haruslah tegak dalam kesabaran.

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)

Sebuah hadis yang luar biasa tentang pesona seorang Mukmin.  ketika ia mendapatkan kebaikan, kebahagian, rasa bahagia, kesenangan dan lain sebagainya, ia akan refleksikan dalam bentuk penysukuran terhadap Allah SWT. Karena ia tahu dan faham bahwa hal tersebut merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada dirinya. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya.

Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, bencana, rasa duka, sedih, kemalangan dan hal-hal negatif lainnya, ia akan bersabar. Karena ia meyakini bahwa hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang pasti memiliki rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.

Sabar bukan hanya sabar dalam menghadapi ujian. Ternyata kita dituntuk bersabar dalam segala hal. Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan segala perbuatan maksiat. Sabar berarti menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

“Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang diberi pahala tanpa dihitung (tidak terbatas).” (Q.S Az-zummar: 10)

Semoga kita semua adalah termasuk orang yang sabar dan saling nasehat menasehati dengan kesabaran...

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasehati dengan kebenaran dan saling menasehati dengan kesabaran” (Q.S Al-Ashr: 1-3)

[Ceritaku] Bertemu Ibu

Minggu, 31 Juli 2011


Tulisan ini ku ketik tepat setelah aku bangun dari tidur dan kemudian deras mencucurkan air mata kembali. Hari pertama puasa, tak kusangka malah kulalui dengan beribu butir air mata. Aku tak dapat menahannya karena kerinduan yang luar biasa yang terpancar dari dalam hatiku. Rindu pada ibuku. Bulan ramadhan ini adalah  ramadhan pertamaku tanpa seorang ibu. Ibu yang biasanya selalu menelponku, menanyakan sahur apa dan buka apa. Jika kemudian beliau menemukan sesuatu yang kurang special di dalam menuku, beliaupun memintaku untuk meningkatkan kualitas makananku.

Kali ini kedua kalinya aku menangis di depan umum. Tadi malam aku menangis rindu dalam sholatku. Tarawih membuatku teramat merindukannya hingga tetesan bening menetes tak terkendali saat aku tarawih. Tapi ini ada efeknya, sholat Isya dan tarawihku tiba-tiba khusyuk luar biasa. Karena di sela rinduku, aku pun menyadari bahwa ternyata dunia ini semu dan sementara. Ujung dari segalanya adalah akhirat.

Dari tadi malam dan hari ini, aku tak henti-hentinya merindukan ibu. Aku pun menangis. Air mataku tak dapat kubentung. Disela diamku, air mata sering nakal lewat mengalir begitu saja hingga tadi pagi, setelah selesai sahur, sholat subuh berjamaah dan membaca Al-Quran setengah juz, aku pun tidur karena mengantuk. Sebelum tidur, aku masih sempat meneteskan air mata rindu. Dan tiba-tiba, dalam tidurku  aku bermimpi berjumpa dengan ibuku. Mungkin ini efek dari begitu luar biasanya aku merindukan ibu. Disela mimpi-mimpiku yang sedikit tak jelas, tiba-tiba aku bermimpi berada di ruang tengah kos dan ibuku datang.

“Mama?”

Seperti baru melihat sesuatu yang sudah lama sekali diidamkan, seperti mendapatkan surprise tak terduga, Sontak, aku langsung berlari memeluknya dengan erat. Dan tiba-tiba di dalam mimpi tersebut aku menangis sesenggukan sambil memeluknya. Emosiku keluar melalui tetesan air mata yang sama derasnya ketika emosiku bermain saat tarawih tadi malam. Beliau pun memelukku erat lalu membelaiku.

“Mama…!” kataku sambil menangis. Kuarasakan bahwa emosiku saat itu benar-benar bermain, mengeluarkan air mata yang tak terekendali.

“Sudah.. sudah..!” Beliau membelaiku hangat, menenangkan. Ini seperti dulu ketika aku tak sengaja jatuh kemudian menangis terisak. Mama datang menghampiriku, menggendongku, membelaiku dan menyapu perlahan bagian yang bengkak, sambil meneguhkanku mengatakan aku kuat dan menenangkan.

“Mama.. maafkan aku!” aku tak tahu, tiba-tiba di mimpi tersebut aku berkata seperti itu. Meminta maaf atas segala kesalahanku yang lalu. Memang akhir-akhir ini aku juga sering menangis karena mengingat kesalahanku. Penyesalan-penyesalan atas sikapku terhadap ibu, atau penyesalan belum sempat memberikannnya yang terbaik ketika beliau masih hidup.

Ketika aku mengatakan itu, tiba-tiba ibu mengguncangku seperti nada protes atas permintaan maafku. Seakan-akan beliau tak mau aku terus menangis meminta maaf padanya karena beliau sudah memaafkannya dari dulu. Hal ini malah tambah membuatku menangis setelah sadar dari mimpi.

“Sudah!” katanya lagi menenangkan. “Ibu baik-baik saja. Tidak usah khawatir. Sudah nak, jangan menangis!”

“Mama….” Kataku lagi sambil memeluknya lebih erat. “Aku sayang mama!” kataku lagi dan ini membuatku lebih deras mengeluarkan air mata.

Aku masih menangis dalam pelukanya dan beliau terus menenangkanku sambil menceritakan apa yang di alaminya di dalam kubur. Inilah yang membuatku merasa mimpiku begitu unik. Dalam mimpi aku menyadarai ibu yang sudah tiada. Beliau mengatakan keadaannnya dalam kubur dan menanggapi pertanyaanku  yang tiba-tiba menanyakan tentang ayah. Karena dalam mimpi tersebut, aku pun menyadari bahwa kubur ibu dan kubur ayah berdampingan. Aku bertanya “Mana ayah? Kenapa tidak kesini?”

Tapi sayang aku lupa semua percakapanku dengan ibu. Yang jelas, mimpi tersebut membuatku lebih lega. Dan aku benar-benar bahagia bisa memimpikannya. Paling tidak, aku kembali merasakan hangatan pelukannya seorang ibu walau di dalam mimpi.

Hingga sampai saat ini aku masih tak bisa mengingat apa saja yang dikatakan ibu padaku.  Yang kuingat hanya di atas. Juga satu kata “Sebenarnya ibu sudah habis dimakan sawah!”  yang dikatakan ibu dengan semangat bercerita. Seperti gaya ibu bercerita tentang apa saja yang dialaminya seaktu ibu masih hidup. Kata-kata yang unik. Tapi dalam mimpi tersebut aku mengangguk dan mengiyakan jasadnya sudah melebur pada tanah karena kubur ibu memang di dekat sawah. Itulah pikiranku dalam mimpi tersebut.

Aku merasa bahagia bisa memimpikannya pagi ini. Walau hanya sebuah mimpi dan mungkin hanya efek dari kerinduanku yang luar biasa padanya. Paling tidak, skenario mimpi tersebut berhasil membuatku merasakan kehadiran seorang ibu. Juga atas jawaban-jawaban ibu tentang keadaannya di  alam sana walaupun aku lupa dan benar-benar lupa apa yang sudah dikatakan ibu padaku hingga ku bisa setenang ini.

Setelah mimpi tersebut usai, mataku membuka perlahan dan tak kusangka aku kembali menangis hingga tulisan ini kubuat. Tapi setelahnya tiba-tiba aku merasakan ketenangan yang sangat. Benar-benar berkah di bulan ramadhan.

“Ya Allah, ampunilah segala dosa ibuku….”

Sebuah kutipan pusis dari Kahlil Gibran

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dikala lara, impian kata dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibinya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.

Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan
dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.


MARI MULIAKAN IBU

Dari sahabat abu hurairah radiyalhu ‘anhu beliau berkata : Datang seorang pria laki-laki kepada rasulullah kemudian dia bertanya : Wahai rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau bersabda, “Ibumu”, Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Bapakmu” (HR. Bukhari dan Muslim)


Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.  (QS. Luqman 14)

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun (QS, Al-Ahqaf 15)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.  (QS, Al-Luqman 14)



[Kaca] Catatan Pak Dian

Senin, 18 Juli 2011

“Mbak!” seseorang menyentak. Aku dan temanku yang sedang menaiki motor pun segera menoleh ke belakang.

“Lain kali jangan rem mendadak dong!” katanya lagi dengan nada yang cukup tinggi. Kurasakan dengan jelas kemarahan yang muncul dalam dirinya. Wanita berjaket hitam tersebut menyorotkan mata tajam kearah kami. Slayer putih menutupi mulut dan hidungnya.

Lama kami tertegun dan kemudian aku pun tersadar bahwa baru saja aku menyuruh temanku menyetop motor karena tempat yang kami tuju terlewat.

“Mau saya tabrak ya Mbak?”

Jujur saja, ketika melihat wanita itu, yang tebersit di pikiranku bukan rasa bersalah atau mungkin rasa sakit hati akibat ucapannya yang begitu menusuk hati. Yang ku ingat pertama kali adalah sebuah bacaan yang pernah kubaca, yaitu  catatan FB yang ditulis oleh Pak Muhammad Dian. Wah, apa yang kualami, hampir mirip dengan cerita pak Dian.

Aku dan temanku akhirnya menundukkan kepala sambil memohon maaf. Tapi yang kami dapat bukan penerimaan maaf melainkan mementalkan apa yang baru saja kami ucapkan.

“Maaf-maaf!” katanya kemudian sinis. “Kalau nggak bisa bawa motor itu nggak usah pake motor!” katanya lagi. “Mau saya tabrak? Lain kali jangan rem mendadak!” wanita itu terus menerus meluapkan kekesalan cukup lama.

Pikiranku kembali melayang. Pikiranku menjamah pada catatan pak Dian yang berjudul “Pernahkah memakan telur dengan cangkangnya?” hingga akhirnya memoriku kupaksa mengingat apa pesan yang ada di dalamnya.

Dalam kehidupan terlalu sering kita terpaku pada PERISTIWA dan PROSES dibanding ISI yang terkandung di dalamnya.

Yupz, benar sekali. Bagian ini bagian penting. Tapi ada pesan terakhir lagi yang bisa kita terapkan langsung. Maka kupaksa lagi memori untuk mengingatnya.

selalu nikmati ISI dari kehidupan ini, abaikan segala hal yang membungkusnya. Hidup akan lebih efektif dan bahagia.

Maka, akhirnya aku pun mementalkan segala kata-kata menyakitkan dari wanita tersebut. mengambil langsung isi darinya. Baiklah, lain kali kami akan lebih hati-hati. Akan kami usahakan untuk tidak rem mendadak karena itu akan membahyakan nyawa kami. Walau yang ini sebenarnya bukanlah kehendak kami untuk menyetop motor secara mendadak.

Aku pun akhirnya menepuk pundak temanku yang memboncengku setelah wanita itu berlalu membawa kekesalannya, “Abaikan kekasarannya, kita perhatikan isinya!”

“Ya mbak? Kenapa?” katanya kemudian sebenarnya masih belum mengerti.

Aku diam, masih tertegun dengan barusan yang kualami juga merasa heran karena tak sedikit pun ada rasa sakit hati dalam hatiku. Kalau dipikir-pikir bungkusannya padahal teramat kasar. Malah temanku adayang bilang bahwa semua ini mirip parade sinetron.

Aku hanya terus teringat pada catatan Pak Dian. Sebelumnya aku sudah pernah menasehati seseorang dengan catatan tersebut saat dia dihina oleh seorang temannya. Betapa cepatnya kemudian akulah yang mengalaminya. Ini seperti sebuah ujian atas nasehatku pada temanku. Apakah aku juga bisa menerapkan seperti pesan yang terkandung pada catatan Pak Dian yang kubaca. Tidak lucu kalau hanya bisa menasehati tanpa bisa melakukannya juga.

Referensi link:

[Kaca] MENANGIS

Minggu, 17 Juli 2011

Hari ini adalah hari yang memalukan, hari yang mungkin tak seharusnya terjadi. Ah, hari ini membuatku ingin segera bernyanyi lagu opick, langsung pada bait di bawah  ini:

Andai bisa ku mengulang
waktu hilang dan terbuang
Andai bisa perbaiki
Segala yang terjadi
Tapi waktu tak berhenti
Tapi detik tak kembali
Harap ampunkan hambaMU ini

Sungguh, aku pun tak mengerti mengapa saat itu aku tak dapat menahan diri. Walau gemericik tawa mengelilingi, tapi semua mental tak memperindah hati. Ah, murung itu begitu cepat menyelimuti, mempergelap suasana diri.

Kenapa kejadian itu harus terjadi? Kejadian yang benar-benar sangat kusesali. Kejadian yang sebenarnya ku tak habis pikir hingga tangan ini pun lincah bermain pada keyboard. Menelusuri google dan mencari penyebab dari segala kejadian, yaitu “Mengapa Kita Bisa Menangis?”

Hari ini memang begitu memilukan. Aku tak dapat menahan tangisan. Kejadian bermula dari telepon kakakku yang pertama. Sebenarnya jika aku menangis, bukanlah hal yang tak biasa. Akhir-akhir ini jika beliau yang menelepon, aku selalu mengeluarkan air mata. Inilah yang selalu kuherankan. Ada emosi yang memuncak setiap berbincang dengannya. Sialnya, hal itu kali ini terjadi DI DEPAN UMUM!!!! Ah, sungguh hati ini mengerucut malu. Aku yakin banyak yang menyadarinya. Terbukti dari banyaknya orang-orang sekelilingku yang kemudian bertanya-tanya, memperhatikan wajah merahku prihatin.

Sesalnya lagi, aku masih tak dapat menahan air mata berlangsung dengan sangat lama. Ketika sudah mereda, otakku kemudian kembali memutar memori lama hingga emosiku kembali bermain dan air mata pun jatuh seketika. Ya Tuhan… kenapa aku jadi begitu?

Ah, sekarang akhirnya aku pun menjadi bertanya-tanya. Apa sih yang menyebabkan kita menangis? Mengapa permainan emosi begitu mudah menjatuhkan air mata? Sudah bersusah payah menahan, tetap saja mengalir sempurna itu air mata.

SO, MENGAPA KITA BISA MENANGIS???
Setelah berinisiatif menyalakan laptop dan menelusuri dunia google, kutemukanlah beberapa artikel mengenainya. Salah satunya yaitu yang sebagai berikut:

Di atas sudut luar mata kita, tepat di bawah alis, ada kelenjar lakrimal atau lebih dikenal dengan kelenjar air mata. Ukurannya hanya sebesar buah kenari, tetapi organ yang kecil ini dapat menyemburkan aliran air mata.

Sebenarnya ada 3 tipe air mata. Tapi yang akan kita bahas kali ini adalah air mata tangisan (air mata psikis), yaitu air mata yang disebabkan karena stres emosional yang kuat, depresi atau nyeri fisik. Bukan hanya emosi yang bersifat negatif, seseorang juga menangis saat dalam keadaan sangat bahagia. Yaitu air mata yang juga kukeluarkan dengan sangat memalukan di depan orang-orang banyak hari ini.

Cara timbulnya air mata psikis berbeda dengan air mata jenis lain. Terdapat sistem yang disebut sistem limbik yang terlibat dalam produksinya. Khususnya organ yang disebut hipotalamus. Cabang parasimpatis dari sistem otonom mengatur kelenjar lakrimasi (air mata) melalui neurotransmiter asetilkolin melalui reseptor nikotinik dan muskarinik. Ketika kedua reseptor ini teraktivasi maka kelenjar air mata akan menghasilkan air mata. (Haduh, ngomong apa sih? Pusing ya? Wekeke,, mari kita lanjutkan saja!)

Sistem saraf kita akan beralih ke modus stres ketika tubuh kita merasakan ancaman. Pada saat itu proses menangis adalah ditangguhkan. Hanya ketika seseorang mulai untuk bersantai bahwa kegiatan menangis terjadi. Fisiologis, sistem saraf parasimpatik bertanggung jawab untuk relaksasi. Menangis atau mengeluarkan airmata, adalah sebuah aktivitas parasimpatik juga. Jadi orang yang stres jangan menangis. Tetapi mereka tidak bahagia.

Ketika seseorang menangis atas kehilangan, itu berarti sistem saraf semakin 'nyaman' atau mencapai suatu tahap 'menerima' kehilangan. Hal ini menyebabkan keseimbangan antara simpatik (stres yang menghasilkan) dan parasimpatis (relaksasi menghasilkan) bagian dari sistem saraf. Tangisan kesedihan yang melibatkan hampir SELALU berakhir.

Menangis bekerja untuk tujuan emosional, kata Sideroff, yang juga seorang assistant clinical professor of psychiatry di UCLA David Geffen School of Medicine. "Menangis adalah sebuah pelepasan. Menangis adalah sebuah penambah energi dengan perasaan-perasaan."

Menangis juga merupakah sebuah mekanisme pertahanan, catat Jodi DeLuca, PhD, seorang neuropsikologi di Tampa General Hospital di Florida. "Ketika anda menangis," katanya. "Ini adalah sebuah pertanda anda butuh menyampaikan sesuatu." Di antara hal-hal yang lain, menangis dapat berarti anda sedang frustasi, kewalahan, atau bahkan sedang berusaha untuk menarik perhatian seseorang, yang DeLuca dan para peneliti lainnya menyebutnya sebagai tangisan "secondary gain".

Di atas itu semua, menangis memiliki tujuan biokimia. Menangis dipercaya dapat melepaskan hormon-hormon stres atau racun-racun dari dalam tubuh, kata Lauren Bylsma, seorang murid Phd di University of South Florida di Tampa, yang memfokuskan menangis pada penelitiannya.

Baiklah, saya tak usah bertele-tele, kalau ingin lebih jelasnya lagi, bukalah link berikut di bawah ini:

Tapi ternyata menangis juga ada manfaatnya, menurut di artikel yang saya baca di link di atas, ketika kita menghadapi sesuatu masalah yang cukup menyesakkan, biasanya air mata muncul menjadi tangis, ternyata itu malah sehat  dibandingkan dengan menghadapi sesuatu dengan berusaha menahan perasaan.

Menurut Dr. William Frey dari Minnesota, menangis membuat seseorang merasa lebih baik karena air mata yang keluar berfungsi menghapus ketegangan syaraf pada tubuh, yang salah satu penyebab dari stress karena beban masalah yang ditanggung. Katanya lagi air mata itu ada 2 macam, air mata iritasi dan air mata emosional (air mata yang keluar karena dorongan emosional).

Orang merasa jauh lebih baik menangis saat emosional karena air mata yang keluar mengandung lebih banyak protein termasuk hormon penyebab stress. Dengan menangis air mata yang keluar akan menstimulasi produksi hormon endorphin yang memunculkan rasa lega dan merasa lebih baik di dalam perasaan.

JANGAN MENANGISSS!!!!!
Wah, saya sebenarnya adalah salah satu orang yang sangat tak mendukung kata-kata “Jangan Menangis!!” Bagi diri saya pribadi, memang menangis memberikan banyak manfaat. Rasa sesak yang teramat menyesakkan dapat hilang seketika dengan menangis selega-leganya. Walaupun mungkin menangis membuat orang di sekeliling kita kadang merasa tak nyaman dan bingung mau berbuat apa. Mungkin salah juga jika menangisnya di depan umum seperti yang terjadi pada diri saya hari ini.

Sering sekali saya mempertanyakan mengenai masalah menangis ini. Karena sering pula seseorang menyarankan untuk tak usah menangis. Apakah kita tak boleh menangis? Terutama yang sering saya dengar kita tak boleh menangis ketika ada yang meninggal dunia, karena tangisan itu akan berpengaruh pada si Mayyit. Saya sudah menghadapi dua orang yang sangat saya sayangi, meninggalkan kehidupan dunia yang masih saya jalani. Yang pertama adalah meninggalnya ayah, dan yang kedua meninggalnya ibu.

Lantas, apakah saya benar-benar tak boleh menangis? Sungguh rasanya tak sanggup sekali saya menahannya. Jika saya terus tahan, sesak di dada semakin menekan. Padahal tangisan yang saya keluarkan hanyalah tangisan penyesalan akan kesalahan-kesalahan yang sebelumnya saya lakukan kepada mereka hingga akhirnya saya pun sering memohon ampun kepada Tuhan. Dan setelahnya, biasanya adalah tangisan rindu yang tak tertahankan atau keterharuan akan segala cinta dan kasih sayangnya yang sudah saya rasakan.

Tapi kemudian saya pun menemukan jawaban J,,

Tangisan yang murni lahir dari kasih sayang diperbolehkan secara Syar`i. Rasulullah pernah menangis tatkala putra beliau, Ibrahim, meninggal. Dan ketika ditanyakan kepada beliau, beliau bersabda:

“Hati bersedih dan air mata berlinang, sedangkan Rabb tidak membenci hal ini”(Al-Albani mengatakan “Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya, hadist no. 743; dan al-hakim dalam mustadraknya, J. l.h. 382. Keduanya dari Abu Hurairah dan sanad hasan).

“Mata berlinang air mata dan hati diliputi kesedihan, tetapi kita tidak diperkenankan mengatakan (apapun) kecuali yang membuat Rabb ridha” (Hr. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Sudah jelaskan? Hehehe.  Jadi intinya “Ayo Menangis!” lho? Kok malah ngajak nangis. Maksudnya, menangislah selagi kau butuh menangis karena sebenarnya menangis tidaklah dibenci oleh Allah. Yang tak diperbolehkan adalah meratap dan menyebut-nyebut jasa dan menangis lalu putus asa. Bedakan  meratap dengan menangis sedih. Yang penting jangan pernah kita menyebut atau berkata dengan sesuatu yang Allah tak ridha denganya.

Jujur saja, di saat kakak pertama saya menelpon, beliau mengelurakan kata-kata yang membuat saya sangat merindukan masa-masa silam bersama ayah dan ibu. Di tambah sms kakak kedua saya secara tiba-tiba. Smsnya seperti ini berbahasa Banjar:

Kena mun bulik fotocopykan nilai dr semester 1 s.d 4, dan fotocopy smua mata kuliah yg harus d selesaikan
(Nanti kalo pulang, fotocopykan nilai dr semester 1 sampai 4, dan fotocopy semua mata kuliah yang harus diselesaikan).

Jemari ini pun membalas
Yupz2… gasan ap?
(Yupz, buat apa?)
Lalu, kakak pun kembali membalas,

Dulu abah minta tarus tiap semester harus ada tanda tangan ketua jurusan, mun rendah disariki sidin. Jadi skg siti hafizah, s.pd yang memantau.
(Dulu ayah selalu minta tiap semester dan harus ada tanda tangan ketua jurusan, kalau rendah dimarahi beliau. Jadi sekarang siti hafizah, s.pd yang akan memantau).

Membaca kata “abah” membuat emosi rinduku kembali bermain. Sudah lama tak mendengar kata “abah” apalagi menyebut nama “abah” karena memang sudah tak ada lagi yang bisa kupanggil dengan kata “abah”. Otakku pun kembali bermain ke saat dimana dulu ayah selalu menanyakan akademikku di sekolah. wajah abah pun tergambar baik di otak lalu mengingat segala aktivitas beliau. Hati pun teramat sangat rindu denganya dan akhirnya  air mata kembali menetes setelah sebelumnya dibuat menetes oleh kakak pertama saat menelpon.


Air mata pun kembali menetes karena keharuan terhadap kakak keduaku yang mengirimkan sms tersebut. Ah, sungguh aku amat terharu. Karena bagiku hal itu adalah sebuah bentuk perhatian lebih yang sebelumnya tak pernah kudapat. Dan akhirnya.. bess,, bess,,, kembali air mata merembes. Sungguh, hati ini teramat lama menahan batin, merindukan segala bentuk perhatian kecil yang sudah tak bisa kudapatkan dari kedua orang tua. Alhasil, disentuh sedikit saja dengan perhatian macam ini aku langsung menangis.

Tapi setelahnya, aku kembali mengingat percakapanku dengan kakak nomor satu hingga air mata sungguh tak dapat ditahan. Begitu banyak alasan, begitu banyak pemikiran dan begitu banyak emosi yang terasakan saat berbincang dengannya hingga air mata meleleh tanpa henti. Perbincangan itu terlampau lumayan lama.

Dan itulah sebenarnya sekelumit alasan mengapa aku menangis di hari ini. semoga tak ada tulisan yang Allah tak ridha dengannya. Ini hanya ingin menghilangkan prasangka. Karena saya yakin, banyak sekali hari ini yang menyaksikan wajah saya merah karena menangis. Yaitu mereka yang mungkin memperhatikan saya saat acara BEM di hari ini tadi.

Menangis memang boleh, tapi menampakan keceriaan sebenarnya akan memberikan pahala tersendiri bagi Muslim. Ah, inilah yang sebenarnya saya sesalkan di hari ini. kenapa tiba-tiba gejolak emosi itu datang di saat yang tidak tepat, yaitu di depan orang banyak.

Teringat hadis berikut:

Maka, Rasulullah Saw. Bersabda: “Janganlah kamu meremehkan sedikit pun dari amal kebaikan, meski hanya sekedar bertemu saudaramu dengan wajah yamg berseri-seri”. (Hr Muslim).

Hadis yang mungkin seringkali terlupa dan diri pun main remah menampakkan segala kesedihan yang ada. Atau pun linangan air mata yang terlanjur mengalir seiring kerinduan yang datang tiba-tiba.

Tapi, jika bukan karena kejadian hari ini pun, saya tak akan memeperoleh 1 tulisan di hari ini. padahal sudah menargetkan untuk 1 hari 1 catatan. Maka, patutlah memang mensyukuri apa yang ada.                

Mengenai Saya

Foto saya
Apalah arti sebuah nama, tapi ternyata nama sangatlah berarti. siapa nama anda dan bisa jadi kehidupan anda adalah seperti nama anda,,,

Entri Populer

Followers

Daftar Blog Saya