Melepas Penat

Jumat, 08 Juli 2011

Aku tak tahu apa yang sedang kupikirkan. Tapi rasanya ada segunung materi membuat berat dihati. Hingga sesak ditahan dan terasa begitu perih. Kristal beningpun menahan diri. Tapi semua begitu kunikmati. Karena akupun tak tahu lagi bagaimana harusnya semua terjadi. Yang kutahu inilah yang harus kujalani. Biar kadang terasa perih menahan berat, biar kadang sesak menahan beban.  Memangnya aku bisa apa selain menjalani konsekuensi dari hidup.
HIDUP ITU PILIHAN. Sebuah kata yang sebenarnya sering terngiang dalam hidupku. Setiap orang memiliki takdir masing-masing dan memiliki pilihannya masing-masing. Namun pilihan itupun sebuah keputusan yang tak mungkin mengabaikan proses.

 Setiap orang punya pilihan dan setiap pilihan memiliki alasan.

Sesungguhnya aku tak ingin memilih keputusan itu. Tapi sayang tubuhku terlanjur masuk dalam jalan itu. walaupun semua tahu tak ada yang mewajibkan  untuk masuk kesana bahkan Tuhan sekalipun. Tidak akan ada dosa ketika kita  tak masuk kesana. Tapi keterlanjuran ini membuatku harus menerima peraturan Tuhan. Karena keterlanjuran inilah kemudian aturan Tuhan berlaku. Tapi yakinlah bahwa Tuhan sudah merencanakan sesuatu untuk hidup kita semanis dan sepahit apapun itu.



Pelajaran dari VM (Virus Maker)

Rabu, 06 Juli 2011


Ada orang yang komputernya habis diserang virus. Datanya berubah menjadi shortcut semua. Diapun murka, “Aku marah, kesel, bete', aku kutuk orang yang udah menciptakan virus itu menjadi melarat, dan menderita kehilangan. Istigfhar, cha! Astafigrullah, ya Allah kembalikanlah folderku" 
Miris sebenarnya melihat kemarahan orang ini pada si pembuat virus. Mungkin kalau saya jadi dia, saya juga akan kesal setengah mati. Jadi ingat waktu pertama kali punya laptop yang ternyata pemberian terakhir ayah. Dan virus pertama yang menjangkitinya adalah virus “bluefantasi”. Berhubung saya waktu itu gaptek, nggak punya pengetahuan cukup tentang laptop, sayapun menangis sejadi-jadinya. Saat itu rasanya hidup ini hancur karena laptop yang sebelumnya sudah saya jaga dengan sangat baik dari virus, akhirnya kena juga. Padahal sebelumnya saya tak pernah sembarangan menancapkan flashdisk atau apapun ke laptop saya. Tapi ngapain juga waktu itu saya pakai acara nangis ya? Padahal virusnya cuman numpang nampang doang
dan nggak merusak. Ah, itulah salah satu akibat tak tahu menahu tentang permasalahan pada laptopnya sendiri. Bisanya cuman mikir negatifnya saja.

Tanamlah

Minggu, 26 Juni 2011

Aku tersentak ketika membuka salah satu blog temanku. Di dalamnya, dia menceritakan peristiwa paginya yang membuatnya seketika tersadarkan akan sesuatu karena sebuah pesan pagi. Pesan itu berbunyi seperti ini:

Sebuah cerita tentang seseorang yang baru bangun tidur di pagi hari dan merenungkan tentang kunci sukses dalam hidup ini ..
jendela kamar tidur berkata " bangun, lihatlah dunia "
langit2 kamar berpesan "Bercitacitalah setinggi mungkin"
jam dinding berdetak " Setiap menit itu berharga"
cermin pun menimpali " berkacalah, sebelum bertindak"
kalender meja lirih berbisik " Jgn tunda samapi besok apa yang bisa kamu kerjakan hari ini"
pintu berteriak " ayo, dorong yang keras & beranjaklah, mulailah hari !"
tp... yang wajib diperhatikan adalah pesan dari lantai kamarmu " wudhulah, basuhkan air diwajahmu , BERLUTUTLAH & BERDOA ... 

Sebuah pesan yang ternyata cukup membuatnya tersadar akan sesuatu. Sebuah pesan yang ternyata sangat melekat di hatinya sampai membuatnya tergerak untuk memposting peristiwanya.
Lantas, sebenarnya apa yang membuatku tersentak dan sesaat terbengong melihat blognya? Bukan

Cukup Kujaga Kau dengan Doa

Sabtu, 07 Mei 2011

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)

Doa adalah ibadah. 
Doa adalah senjata. 
Doa adalah benteng. 
Doa adalah obat. 
Doa adalah pintu segala kebaikan.

“Mairaa,,” panggilku dengan menadayu khas anak kecil sambil celingak celinguk memperhatikan rumah tetanggaku tersebut. Apakah Maira akan segera keluar atau tidak.

“Mairaa..” panggilku sekali lagi dengan suara cempreng khas anak kecil. Tapi sayang tak kulihat sedikitpun tanda-tanda kemunculannya. Yang ada hanya sahutan ibunya dari dalam rumah.

“Mairanya lagi tidur siang Da, mainnya besok-besok saja lagi ya!”

Kudengar samar-samar di dalam rumah itu suara Maira yang merengek ingin keluar menemuiku bermain. Aku yang saat itu masi berumur 10 tahun hanya bisa kembali ke rumahku dengan hati kecewa. Padahal hari itu kami sama sekali belum bermain apapun, tapi Ibu Maira sudah melarangnya untuk bermain. Akhirnya akupun kembali ke rumah, menjadikan kucing-kucingku sasaran untuk bermain.

Ada satu hal yang baru kusadari ketika aku mengingat masa kecilku bahwa aku jarang sekali diatur oleh kedua orang tuaku. Tidak seperti teman-temanku yang kadang kudapati menekuk wajah kecewa karena tidak boleh kesana kemari atau mungkin merengek tidak mau tidur siang. Seperti halnya Maira. Aku?

Sebuah Nasehat untuk Nasehat

Selasa, 08 Februari 2011

“Wudhu seperti itu tuh salah!” seseorang berkopiah dengan baju koko putih bersih tiba-tiba bercelutuk ketika melihat seorang pria sedang berwudhu.

Seketika juga sang pria tersentak dan terhenti dari wudhunya. Kepada siapa lagi pria berbaju koko ini berbicara kalau tidak kepadanya karena dialah satu-satunya yang berwudhu saat itu. Sedangkan yang lainnya hanyalah bocah-bocah yang ramai bermain dalam keceriaan. Saat itu juga tiba-tiba keramaian bocah terhenti. Seluruh mata kini reflek menatap pria dengan parfum yang tercium harum tersebut dan kemudian berbalik menatap pria yang sedang berwudhu.

“Terus bagaimana yang benar?” sang priapun akhirnya balik bertanya dengan wajah sedikit merah padam. Suaranya serak seperti menahan amarah. Rupanya sang pria sedikit jengkel juga walaupun dia menyadari bahwa dirinya salah. Tepatnya sang pria kesal karena malu. Disana banyak orang dan banyak anak kecil juga salah satu putranya yang kini menyaksikan ayahnya yang tak becus dalam berwudhu.

Dalam hati kini pria membatin “Mentang-mentang banyak ilmunya!” alih-alih merasa berterima kasih karena tengah hendak dibetulkan wudhunya, sang pria malah beralih meredam sakit hati dalam hati karena telah ditergur terang-terangan di depan orang banyak. Sang pria hanyalah manusia biasa yang pastinya punya perasaan.

~~~~~~~~~~~

Sedikit merenung tadi malam setelah membaca sebuah buku pada bab Nasihat dan akhirnya membuat saya tergerak menuliskan ini. Bukan karena apa-apa namun lebih karena saya amat tertohok dengan setiap baris kata-kata di dalamnya. Karena saya baru

KARENA POLISI (POLISI DILARANG BACA) Kejadian kecelakaan pertamaku

Senin, 07 Februari 2011

Aku adalah orang yang sedikit phobia dengan polisi. Walaupun Dari lubuk hati yang terdalam aku benci dengan polisi, tapi rasa takut itupun ada dikala melihat polisi. Seharusnya ketika aku membenci polisi aku akan sangat jengkel melihatnya dan bahkan mungkin merencanakan rencana jahat untuk memusnahkan mereka. Tak mungkin ada kata takut ketika melihat orang yang sangat kita benci, malah mungkin semangat berani balas dendam. Tapi aku juga sedikit takut ketika harus melihat polisi.

Aku benci polisi? Kenapa? Ah, kurasa diriku tak perlu menjelaskannya karena bagian cerita ini bukan alasan memangapa aku membenci polisi. Bagian cerita ini adalah ceritaku ketika takut berhadapan dengan polisi.

Aku begitu takut dengan polisi. Disamping takut kalau tiba-tiba dimasukin penjara sama mereka karena dikira penjahat, aku sangat takut jika mereka menanyakan SIM C. SIM C? ya, SIM C! Aku sudah sangat sering mengemudikan kendaraan bermotor roda dua tapi aku belum memiliki surat izin mengemudinya. Karena itulah setiap aku bepergian menggunakan motor, aku sangat takut jika tiba-tiba ada polisi yang sedang razia. Alhasil, akupun jadi takut sendiri ketika ada polisi dijalan-jalan, di pos polisi dan dimanapun walaupun mereka tidak sedang razia.

Dan ini adalah beberapa kata-kata temanku dan sepupuku ketika kukatakan aku takut bawa motor kalau ada polisi.

“Kalau bawa motor itu nyantai aja, ada polisi ya cuek aja. Dirimu kalau gerogi gitu malah bikin curiga polisi. Polisi itu tahu gelagatnya orang-orang!”

DETIK-DETIK ITU??? (end)

Rabu, 05 Januari 2011



Wajah-wajah itu berderai air mata, satu sama lain saling mengelus pundak menenangkan. Wanita tua yang kukenal sebagai ibuku itu menutup wajahnya terisak di depan rumahku. Di samping kanannya kak Naura, kakak perempuanku yang pertama memeluknya erat. Disamping kirinya, kak Evi, kakak keduaku mengelus pundak ibu berdiri tak kalah isak.

Aku melangkah gontai, memandang ketiga wanita penting dalam hidupku itu kosong. Aku melihatnya biasa, tak ada perasaan khawatir, perasaan sedih, panik dan segala macamnya. Seperti memandang pemandangan tanpa makna hingga aku menghampiri mereka, tak ada perasaan apapun yang muncul.

Mereka bertiga terus menangis. Aku hanya melihatnya sebagai tontonan biasa untuk kemudian melihat mobil didepanku yang siap meninggalkan rumah. Di dalamnya, seorang pria 50 tahunan sibuk memeriksa stir mobil dan kemudian menyalakan mesin. Wajahnya teduh, kontras dengan wajah diluarnya yang berderai air mata.

Ketiga wanita itu masih menangis dan aku memandang ayahku yang berada di dalam mobil dengan tatapan kosong. Beliaupun memandangku dan kemudian menyunggingkan senyum penuh arti. Senyum itu masih bertahan sampai mobil itu akhirnya mundur dan kemudian melaju pergi entah kemana.

Handphone mungilku tiba-tiba bergetar, sedikit membuyarkan lamunanku tentang mimpiku tadi malam. Tanganku lantas mengambil benda haram di asramaku tersebut dengan cepat.
Mama Sayang

Mengenai Saya

Foto saya
Apalah arti sebuah nama, tapi ternyata nama sangatlah berarti. siapa nama anda dan bisa jadi kehidupan anda adalah seperti nama anda,,,

Entri Populer

Followers

Daftar Blog Saya