Melepas Penat
Jumat, 08 Juli 2011
Diposting oleh
Azizah Maulida
Label: curhat
Pelajaran dari VM (Virus Maker)
Rabu, 06 Juli 2011
Diposting oleh
Azizah Maulida
Label: Ceritaku
Tanamlah
Minggu, 26 Juni 2011
Diposting oleh
Azizah Maulida
jendela kamar tidur berkata " bangun, lihatlah dunia "
langit2 kamar berpesan "Bercitacitalah setinggi mungkin"
jam dinding berdetak " Setiap menit itu berharga"
cermin pun menimpali " berkacalah, sebelum bertindak"
kalender meja lirih berbisik " Jgn tunda samapi besok apa yang bisa kamu kerjakan hari ini"
pintu berteriak " ayo, dorong yang keras & beranjaklah, mulailah hari !"
tp... yang wajib diperhatikan adalah pesan dari lantai kamarmu " wudhulah, basuhkan air diwajahmu , BERLUTUTLAH & BERDOA ...
Label: Nasehat
Cukup Kujaga Kau dengan Doa
Sabtu, 07 Mei 2011
Diposting oleh
Azizah Maulida
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)
Label: Nasehat
Sebuah Nasehat untuk Nasehat
Selasa, 08 Februari 2011
Diposting oleh
Azizah Maulida
Label: Nasehat
KARENA POLISI (POLISI DILARANG BACA) Kejadian kecelakaan pertamaku
Senin, 07 Februari 2011
Diposting oleh
Azizah Maulida
Label: Ceritaku
DETIK-DETIK ITU??? (end)
Rabu, 05 Januari 2011
Diposting oleh
Azizah Maulida
Wajah-wajah itu berderai air mata, satu sama lain saling mengelus pundak menenangkan. Wanita tua yang kukenal sebagai ibuku itu menutup wajahnya terisak di depan rumahku. Di samping kanannya kak Naura, kakak perempuanku yang pertama memeluknya erat. Disamping kirinya, kak Evi, kakak keduaku mengelus pundak ibu berdiri tak kalah isak.
Aku melangkah gontai, memandang ketiga wanita penting dalam hidupku itu kosong. Aku melihatnya biasa, tak ada perasaan khawatir, perasaan sedih, panik dan segala macamnya. Seperti memandang pemandangan tanpa makna hingga aku menghampiri mereka, tak ada perasaan apapun yang muncul.
Mereka bertiga terus menangis. Aku hanya melihatnya sebagai tontonan biasa untuk kemudian melihat mobil didepanku yang siap meninggalkan rumah. Di dalamnya, seorang pria 50 tahunan sibuk memeriksa stir mobil dan kemudian menyalakan mesin. Wajahnya teduh, kontras dengan wajah diluarnya yang berderai air mata.
Ketiga wanita itu masih menangis dan aku memandang ayahku yang berada di dalam mobil dengan tatapan kosong. Beliaupun memandangku dan kemudian menyunggingkan senyum penuh arti. Senyum itu masih bertahan sampai mobil itu akhirnya mundur dan kemudian melaju pergi entah kemana.
Handphone mungilku tiba-tiba bergetar, sedikit membuyarkan lamunanku tentang mimpiku tadi malam. Tanganku lantas mengambil benda haram di asramaku tersebut dengan cepat.
Mama Sayang
Label: Fiksi
