[Fiksilisasi Lirik] Tiada Duka yang Abadi

Selasa, 12 Juli 2011


Tuhan, kali ini tulisanku penuh luka.  Ampuni aku yang menulis resah, ampuni aku yang menulis gundah. Izinkan butiran bening ini mengalir tanpa dosa. Bukan, bukan maksudku menggugat takdir. Sungguh, diri ini hanya ingin mengeluarkan rasa perih yang menggorogoti hati, meredakan rasa sakit yang menyakiti, melapangkan rasa sesak yang menghinggapi dan menguapkan perasaan sedih yang menjangkiti.

Tiada duka yang abadi di dunia
Tiada sepi merantaimu selamanya
Malam akan berakhir, hari akan berganti
Takdir hidup akan dijalani

Tuhan, kuatkan aku dalam menghadapi takdir luka sampai waktu suka menghampiri diri.

Tangis dan tawa nyanyian yang mengiringi
Hati yang rindu tanda  cinta dijalanNya
Namun ku percaya hati meyakini
Semua akan indah pada akhirnya

Kaulah yang maha tahu akan segala isi hati.

Andai bisa ku mengulang
Waktu hilang dan terbuang

Tuhan, ada yang berdenyut sakit ketika sekelebat bayangan melintas, memaksaku memutar kembali kaset lama. Menghantarkanku pada padang lawas, sebuah penyesalan tiada tara, akan sekelumit peristiwa.

Andai bisa perbaiki segala yang terjadi
Tapi waktu tak berhenti
Tapi detik tak kembali
Harap ampunkan hamba-Mu ini

Hati ini benar-benar kelabu. Apapun sekelumit peristiwa masa lalu, hanya bisa mengharap segala ampunanMu. Sungguh, diri ini tak mungkin bisa kembali ke masa lalu. Bahkan yang hilang hanya bisa dirindu. Dan segala yang terlanjur, hanya sesal menyelimut.

Waktu berputar rebulan dan matahari
Bunga yang mekar akan layu akan mati
Malam akan berakhir, hari akan berganti
Takdir hidup akan dijalani

Tuhan, izinkanlah aku memetik rindu, sedikit membulirkan kristal bening mata yang jatuh dari terjangan hati. Bukan, bukan untuk menggugat, tapi sebagai bukti proses diri menjalani takdir.

Tangis dan tawa nyanyian yang mengiringi
Hati yang rindu tanda cinta dijalan-Mu

Karena setelah kelabu akan terbit terang,  setelah suram akan terbit cerah dan setelah tangisan, akan terbit senyuman. Karena setelah duka akan datang rasa suka.
Namun ku percaya hati meyakini
Semua akan indah pada akhirnya


[Fiksilisasi Lirik :D] Bila Waktu Telah Berakhir

Senin, 11 Juli 2011

Ketika dunia hampir dalam genggaman, semua perhiasannya adalah tujuan. Dan ketika kegagalan demi kegagalan berhamburan. Ah, ini hanya kesuksesan yang tertunda. Kaki pun terus melangkah. Mata lurus menatap ke atas. Aku akan mencapainya. Namun, ketika keadaan tak lagi mendukung, kegagalanpun dirasa bukan lagi sebuah proses menuju kesuksesan. Hati merasa iri, serasa jatuh harga diri. Lihatlah mereka yang berhasil dengan segala perhiasannya.

bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yg sementara

Harusnya akulah yang mendapatkan posisi itu. Harusnya perhiasan dunia itu milikku dan bukan miliknya. Kenapa? Kenapa? Kenapa dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Ah, kenapa aku selalu berada di bawahnya?

bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
meninggalkan dirimu

Bagaimana kalau semua hilang dan pergi? Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Bukankah yang kudapatkan masih sedikit?

bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari

Tiba-tiba kepalaku berdenyut sakit. Aku pusing. Apa? Sekarang aku sudah pusing? Bagaimana jika setelah pusing tiba-tiba aku jatuh sakit lalu bertambah parah dan parah? Maka waktuku benar-benar berhenti.

masikah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu

Ah, tentu waktu suatu saat akan berhenti tanpa disadari. Tak akan ada jalan untuk kembali. Masa lalu tak akan terulangi.

dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya

Semua hal yang kudapatkan saat ini akan hilang. Aku tahu ini hanya sedikit. Tidak sebanyak punya mereka. Lantas, kenapa aku selalu memikirkan mereka yang mendapat lebih banyak? Bukankah ini hanya sementara?

bila waktu tlah memenggil
teman sejati hanyalah amal


Aku ingin masih mendaki, menggapai apa yang ingin kuraih. Mungkinkah aku bisa menghilangkan rasa iri ketika melihat yang lain bisa mencapainya lebih cepat? Mendapatkannya lebih banyak? Ah, siapa aku yang harus terus menerus memikirkan itu? kenapa tak kupikir saja berapa banyak amalku sambil berlalu mendaki, mencapai mimpi.

bila waktu telah terhenti
teman sejati tingallah sepi

Dan ketika waktu terhenti, mereka-mereka tentulah lenyap dari diri. Setelahnya tentu diri sendiri menghadap sepi. Menanggung semuanya sendiri. Mempertanggung jawabkan apa yang sudah diperbuat diri.

[Kaca] SI TEPAT WAKTU

Minggu, 10 Juli 2011

“Jadi, kapan kita akan rapat lagi?”
“Besok jam 9 ya!”
“Deal!”
“Oke”
“Tapi harus tepat! Jangan seperti hari ini! kasihan yang nunggu lama!”
Sebuah percakapan yang sudah sangat biasa. Harus tepat ya! Kata-kata inipun kerap kali diucapkan saat orang-orang merencanakan janji bertemu kembali, berharap agar besok semua datang tepat pada waktunya. Namun apa yang terjadi? Kadang yang berucap bahkan tidak mengikuti apa yang dikata. Hasilnya, perjanjian yang awalnya dimulai jam 9, menjadi jam 10 bahkan mungkin jam 12 setelah adzan dzuhur berkumandang.
Sebenarnya aku pun bukan orang yang bisa dicap sebagai orang yang on time (bahasa kerennyalah =D). ketika janji itu misalnya jam 9, aku kerapkali terlambat sekitar 15 bahkan 30 menit. Karena aku selalu berpikir “ah, paling juga molor” dengan tanpa sadar bahwa banyak orang yang berpikiran sama dan memutuskan hal yang sama, memolorkan waktu. Walau demikian, ilmu statistika tetaplah berlaku dalam sebaran normal. Pencilan itu pasti ada. Lantas, siapakah pencilan disini? Pencilan disini adalah orang yang tidak berpikir seperti yang di atas. Yaitu orang yang selalu berpikir “sudah disepakati pertemuan jam 9, maka aku harus datang tepat pada waktunya!” sehingga dia pun adalah orang yang datang pertama kali dalam kesepakatan itu.

Melepas Penat

Jumat, 08 Juli 2011

Aku tak tahu apa yang sedang kupikirkan. Tapi rasanya ada segunung materi membuat berat dihati. Hingga sesak ditahan dan terasa begitu perih. Kristal beningpun menahan diri. Tapi semua begitu kunikmati. Karena akupun tak tahu lagi bagaimana harusnya semua terjadi. Yang kutahu inilah yang harus kujalani. Biar kadang terasa perih menahan berat, biar kadang sesak menahan beban.  Memangnya aku bisa apa selain menjalani konsekuensi dari hidup.
HIDUP ITU PILIHAN. Sebuah kata yang sebenarnya sering terngiang dalam hidupku. Setiap orang memiliki takdir masing-masing dan memiliki pilihannya masing-masing. Namun pilihan itupun sebuah keputusan yang tak mungkin mengabaikan proses.

 Setiap orang punya pilihan dan setiap pilihan memiliki alasan.

Sesungguhnya aku tak ingin memilih keputusan itu. Tapi sayang tubuhku terlanjur masuk dalam jalan itu. walaupun semua tahu tak ada yang mewajibkan  untuk masuk kesana bahkan Tuhan sekalipun. Tidak akan ada dosa ketika kita  tak masuk kesana. Tapi keterlanjuran ini membuatku harus menerima peraturan Tuhan. Karena keterlanjuran inilah kemudian aturan Tuhan berlaku. Tapi yakinlah bahwa Tuhan sudah merencanakan sesuatu untuk hidup kita semanis dan sepahit apapun itu.



Pelajaran dari VM (Virus Maker)

Rabu, 06 Juli 2011


Ada orang yang komputernya habis diserang virus. Datanya berubah menjadi shortcut semua. Diapun murka, “Aku marah, kesel, bete', aku kutuk orang yang udah menciptakan virus itu menjadi melarat, dan menderita kehilangan. Istigfhar, cha! Astafigrullah, ya Allah kembalikanlah folderku" 
Miris sebenarnya melihat kemarahan orang ini pada si pembuat virus. Mungkin kalau saya jadi dia, saya juga akan kesal setengah mati. Jadi ingat waktu pertama kali punya laptop yang ternyata pemberian terakhir ayah. Dan virus pertama yang menjangkitinya adalah virus “bluefantasi”. Berhubung saya waktu itu gaptek, nggak punya pengetahuan cukup tentang laptop, sayapun menangis sejadi-jadinya. Saat itu rasanya hidup ini hancur karena laptop yang sebelumnya sudah saya jaga dengan sangat baik dari virus, akhirnya kena juga. Padahal sebelumnya saya tak pernah sembarangan menancapkan flashdisk atau apapun ke laptop saya. Tapi ngapain juga waktu itu saya pakai acara nangis ya? Padahal virusnya cuman numpang nampang doang
dan nggak merusak. Ah, itulah salah satu akibat tak tahu menahu tentang permasalahan pada laptopnya sendiri. Bisanya cuman mikir negatifnya saja.

Tanamlah

Minggu, 26 Juni 2011

Aku tersentak ketika membuka salah satu blog temanku. Di dalamnya, dia menceritakan peristiwa paginya yang membuatnya seketika tersadarkan akan sesuatu karena sebuah pesan pagi. Pesan itu berbunyi seperti ini:

Sebuah cerita tentang seseorang yang baru bangun tidur di pagi hari dan merenungkan tentang kunci sukses dalam hidup ini ..
jendela kamar tidur berkata " bangun, lihatlah dunia "
langit2 kamar berpesan "Bercitacitalah setinggi mungkin"
jam dinding berdetak " Setiap menit itu berharga"
cermin pun menimpali " berkacalah, sebelum bertindak"
kalender meja lirih berbisik " Jgn tunda samapi besok apa yang bisa kamu kerjakan hari ini"
pintu berteriak " ayo, dorong yang keras & beranjaklah, mulailah hari !"
tp... yang wajib diperhatikan adalah pesan dari lantai kamarmu " wudhulah, basuhkan air diwajahmu , BERLUTUTLAH & BERDOA ... 

Sebuah pesan yang ternyata cukup membuatnya tersadar akan sesuatu. Sebuah pesan yang ternyata sangat melekat di hatinya sampai membuatnya tergerak untuk memposting peristiwanya.
Lantas, sebenarnya apa yang membuatku tersentak dan sesaat terbengong melihat blognya? Bukan

Cukup Kujaga Kau dengan Doa

Sabtu, 07 Mei 2011

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)

Doa adalah ibadah. 
Doa adalah senjata. 
Doa adalah benteng. 
Doa adalah obat. 
Doa adalah pintu segala kebaikan.

“Mairaa,,” panggilku dengan menadayu khas anak kecil sambil celingak celinguk memperhatikan rumah tetanggaku tersebut. Apakah Maira akan segera keluar atau tidak.

“Mairaa..” panggilku sekali lagi dengan suara cempreng khas anak kecil. Tapi sayang tak kulihat sedikitpun tanda-tanda kemunculannya. Yang ada hanya sahutan ibunya dari dalam rumah.

“Mairanya lagi tidur siang Da, mainnya besok-besok saja lagi ya!”

Kudengar samar-samar di dalam rumah itu suara Maira yang merengek ingin keluar menemuiku bermain. Aku yang saat itu masi berumur 10 tahun hanya bisa kembali ke rumahku dengan hati kecewa. Padahal hari itu kami sama sekali belum bermain apapun, tapi Ibu Maira sudah melarangnya untuk bermain. Akhirnya akupun kembali ke rumah, menjadikan kucing-kucingku sasaran untuk bermain.

Ada satu hal yang baru kusadari ketika aku mengingat masa kecilku bahwa aku jarang sekali diatur oleh kedua orang tuaku. Tidak seperti teman-temanku yang kadang kudapati menekuk wajah kecewa karena tidak boleh kesana kemari atau mungkin merengek tidak mau tidur siang. Seperti halnya Maira. Aku?

Mengenai Saya

Foto saya
Apalah arti sebuah nama, tapi ternyata nama sangatlah berarti. siapa nama anda dan bisa jadi kehidupan anda adalah seperti nama anda,,,

Entri Populer

Followers

Daftar Blog Saya